Jalan Keluar Selain Ikuti Jalur SNMPTN

Diterbitkan oleh pada Kamis, 3 Maret 2016 06:37 WIB dengan kategori Pendidikan dan sudah 825 kali ditampilkan

Sebanyak 5.810 sekolah tidak mengikutsertakan siswa-siswinya dalam Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2016. Pasalnya, ribuan SMA sederajat itu tidak mengisi pangkalan data sekolah dan siswa (PDSS) hingga batas waktu yang ditentukan. Padahal, di proses tersebut merupakan langkah awal prosedur penerimaan mahasiswa baru jalur SNMPTN.

 

Ketua Umum Panitia SNMPTN 2016, Rochmat Wahab menuturkan, para siswa yang sekolahnya tidak mengisi PDSS otomatis tidak bisa mendaftar pada SNMPTN. Namun, tak usah khawatir lantaran masih ada jalur masuk perguruan tinggi negeri (PTN) lainnya.

 

"Masih ada kesempatan melalui jalur SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dan UM (Ujian Mandiri)," tutur Rochmat.

 

Kuota SNMPTN 2016 sendiri tahun ini dipangkas menjadi minimal 40 persen untuk setiap PTN. Jalur SBMPTN minimal 30 persen, sedangkan UM maksimal 30 persen. Dengan begitu, peluang siswa masih terbuka meskipun tidak bisa mengikuti SNMPTN.

 

Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) itu menambahkan, sekolah terbanyak yang tidak mengisi PDSS berada di Provinsi Jawa Barat, yakni 1.006 sekolah. Menurut Rochmat, terdapat berbagai faktor yang menjadi penyebab sekolah memilih tidak mengisi PDSS.

 

"Jawa Barat yang mengisi PDSS hanya 2.209, artinya hampir sepertiganya tidak mengisi. Penyebabnya kurang tahu, mungkin sekolah kurang percaya diri atau pengalaman sebelumnya sudah capek-capek tetapi siswanya tidak diterima," ucapnya.

 

Ikut serta dalam SBMPTN dan UM, ujar dia, juga merupakan solusi bagi para siswa kelas akselerasi atau unggulan yang gagal ikut SNMPTN lantaran pihak sekolahnya mengurangi jumlah mata pelajaran, namun saat mengisi PDSS jumlah jam atau SKS tidak disesuaikan dengan kelas reguler.

 

"Dalam sistem, pembaginya sama. Sekolah yang menerapkan kurikulum KTSP 2006 memakai jam sedangkan kurikulum 2013 menggunakan SKS. Sekolah yang mengurangi mata pelajaran tetapi jam atau SKS-nya tidak disesuaikan maka saat diproses dengan pembagi sama, nilai siswanya lebih kecil dibandingkan dengan sekolah lainnya," imbuhnya.

 

(okz)