Lembaga Pendidikan Islam Perlu Berbenah

Diterbitkan oleh pada Kamis, 14 April 2016 13:34 WIB dengan kategori Pendidikan dan sudah 930 kali ditampilkan

Islam tidak memisahkan aspek sosial dan komersil dalam dunia pendidikan. Keduanya harus dapat disinergikan, agar pendidikan Islam bisa lebih maju. Selain itu, Islam juga mendorong dunia pendidikan terus berbenah mengikuti perkembangan zaman agar tidak ketinggalan.


Hal itu, disampaikan Pendiri Ikatan Ulama dan Da'i Asia Tenggara, Rahmat Abdurrahman, pada seri dialog pakar yang digelar Tali Foundation, di Sekolah Insan Cendekia Madani, Tangsel, Jumat (8/4).


Rahmat menjelaskan, aspek sosial dan komersil harus disinergikan agar pendidikan Islam muncul sebagai institusi yang berkualitas, sehingga layak didaulat sebagai mercusuar peradaban. Praktisi pendidikan Islam harus terbuka dan mau mengadopsi konsep pendidikan yang dikelola dengan mengintegrasi konsep sosial dan ekonomi.


"Artinya, konsekuensi biaya pendidikan mahal, dimaklumi jika itu semata untuk meningkatkan kualitas, bukan profit oriented. Institusi pendidikan inklusif, tetap bisa dijangkau oleh semua lapisan masyarakat. Ini merupakan prinsip keadilan yang menjadi bagian utuh jiwa pendidikan dalam Islam," papar Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini.


Islam adalah kumpulan nilai. Islam tidak dikenal karena orang, tempat atau era/massa. Tapi Islam dikenal karena kumpulan nilai seperti sifat tauhid, keiklasan, mujahadah, pengorbanan, dan optimisme.


"Karena itu, pendidik dalam Islam harus memiliki nilai keiklasan dalam mentransfer ilmunya. Keikhlasan dimaknai sebagai profesionalisme yang di dalamnya ada tanggungjawab untuk menghasilkan yang terbaik," ujar tokoh asal Sulsel ini.


Sementara, Pembina Sekolah Insan Cendekia Madani (ICM) Tamsil Linrung, menambahkan, sinergitas antara pendidikan Islam dan pendidikan moderen sangat diperlukan. Kolaborasi keduanya akan melahirkan institusi pendidikan yang mapan dan berkualitas.


"Kekurangan yang kita (pendidikan Islam) miliki bisa ditopang oleh pendidikan moderen, begitu juga sebaliknya. Sehingga kita bisa melahirkan role model institusi pendidikan terbaik dan melahirkan para insan cendekia," kata Pendiri ICM ini.


Lanjut Wakil Ketua Komisi VII DPR ini, ada sebuah fakta menarik. Dimana Indonesia selalu menjadi target market yang empuk bagi negara lain. Mulai dari sektor industri hingga aspek pendidikan, negeri ini selalu jadi sasaran tembak. Banyaknya peminat di istitusi pendidikan berlebel internasional menjadi contoh nyata. Sementara sekolah Islam masih kalah saing dan kurang peminatnya.


"Ini sungguh memprihatinkan. Orang Islam justru bangga menyekolahkan anaknya di sekolah yang jelas-jelas memakai kurikulum non muslim. Karena itu, kita harus merubah kondisi ini, dengan melahirkan institusi pendidikan Islam yang berkualitas," tegasnya. (fat/talifoundation)