Keberadaan Pengemis Resahkan Warga Tanjungpinang
TANJUNGPINANG - Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker) Kota Tanjungpinang,Surjadi mengimbau masyarakat di Kota Tanjungpinang untuk tidak memberi uang kepada pengemis. Pasalnya, dia khawatir Kota Tanjungpinang akan menjadi kota tujuan para pengemis.
”Pemandangan banyak pengemis di Tanjungpinang sepertinya sudah biasa di Tanjungpinang. Bahkan, pengemisnya tetap orang yang sama. Misalnya, pengemis tuna netra ada beberapa orang. Hanya saja, yang membawanya untuk meminta-minta berganti-gantian. Sehingga, terkesan seperti sudah ada yang mengkoordinirnya,” ujar salah seorang warga Tanjungpinang, Ardi, Senin (18/4)
Kalau dia sedang duduk di salah satu kedai kopi, katanya, maka seperti bergantian pengemis tuna netra masuk ke dalam kedai kopi tersebut. Belum lagi pengemis yang membawa anaknya sulit berjalan. Apakah benar itu anaknya atau tidak memang tidak dapat dia ketahui. Yang jelas, pemandangan seperti ini sudah hal yang biasa. Hanya saja sangat disayangkan jika dibiarkan, sebab tidak menutup kemungkinan jumlah yang datang akan semakin ramai lagi.
Suwandi, warga Kota Tanjungpinang lainnya merasa resah dengan banyaknya pengemis. Sebab, tidak hanya masuk dari satu kedai kopi ke kedai kopi lainnya. ”Tapi, terkadang ada yang berani masuk ke dalam tempat Wisata tepi laut Melayu Squre anjung Cahaya dan juga restoran untuk meminta-minta. Belum lagi yang di persimpangan lampu merah. Terkadang lampu sudah memberi tanda jalan, masih saja pengemis meminta-minta, sehingga menyebabkan jalanan terganggu,” jelasnya.
Dia berharap, pemerintah setempat dapat mengambil tindakan dengan melakukan penertiban terhadap para pengemis ini. Setelan itu dapat dipulangkan ke kota asal. Sehingga kesannya Tanjungpinang bukan sebagai kota yang banyak pengemis. Apalagi Tanjungpinang sebagai salah satu daerah tujuan bagi wisatawan manca negara Sebagai penanganan, pihak Dinsos Kota Tanjugpinang telah melakukan pemulangan pengemis ke daerah asal. Tapi ternyata upaya tersebut tidak efektif. Sebab, sebagian besar pengemis masih saja kembali ke Kota Tanjungpinang.
Pihaknya juga pernah menawarkan untuk mengikuti program pemberdayaan ekonomi. Tapi pengemis tersebut justru menolak, karena khawatir pendapatan yang diperoleh tidak sebanyak pada saat mengemis. “Rata-rata pendapatan mereka Rp 300 ribu perhari.
Menurut Surjadi solusi yang sesuai adalah dengan merubah mindset para pengemis. Karena itu, lanjutnya, panti rehabilitasi sosial sangat diperlukan dalam melakukan penanganan pengemis. “Pemerintah Provinsi Kepri memiliki wewenang untuk menyediakan panti rehabilitas,” ujarnya.
Menurut Surjadi, dengan adanya panti rehabilitasi sosial, penanganan pengemis akan berjalan maksimal.

