Miris, Bayi 10 Hari Tinggal di Bekas Kandang Ayam
TASIKMALAYA - Masalah kemiskinan masih menjadi pekerjaan rumah bagi Pemerintah Kota Tasikmalaya. Masih banyak warga miskin yang hidup di rumah tinggal yang tidak layak untuk dihuni.
Keluarga Maulana misalnya. Maulana yang baru saja dikaruniai bayi laki-laki bernama Faang Maulana ini terpaksa tinggal di bekas kandang ayam karena tak memiliki cukup uang untuk membangun rumah.
Sang anak, Faang Maulana yang baru berumur 10 hari, harus tinggal di gubuk reyot bersama tiga kakaknya, Eldimetri (14), Intan Ramadani (5), dan Fitri Maulani (2) di Kampung Bojong, Kelurahan Cipari, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya.
Kondisi tempat tinggal keluarga Maulana jauh dari kata layak. Bilik berukuran 2x3 meter yang berada di bantaran saluran irigasi Cikunten itu terbagi menjadi dua ruangan. Satu ruangan untuk dapur, sisanya untuk tidur.
Sempitnya ruang tidur ditambah serbuan semut membuat Maulana menidurkan anaknya, Faang pada ayunan yang ia buat di antara sekat rumahnya. Sementara ketiga anaknya, tidur dengan beralaskan kasur tipis yang sudah lapuk karena terlalu tua.
“Sudah empat tahun saya tinggal di sini. Saya terpaksa tinggal di gubuk ini karena tak mampu menyewa kontrakan. Penghasilan saya sebagai tukang odong-odong keliling bahkan tak cukup untuk biaya makan sehari-hari,” tutur Maulana di gubuknya, Kamis kemarin.
Maulana mengungkapkan, ia sempat memiliki rumah hasil peninggalan orangtua sang istri Heni. Namun, rumah itu terpaksa dijual untuk membiayai pengobatan sang istri. Melihat kondisi keluarga Maulana, salah seorang tetangganya pun berbaik hati meminjamkan lahan bekas kandang ayamnya untuk ditempati Maulana.
Sebenarnya, Maulana memiliki lahan kosong seluas dua bata (28 meter persegi). Namun, lahan itu masih belum menjadi miliknya secara sah, karena dibeli dengan cara mencicil. “Ada lahan, tetapi masih kurang Rp 1.500.000 cicilannya. Itu juga sisa dari penjualan rumah yang dulu,” ucap Maulana.
Sembari menggendong Faang, istri Maulana, Heni berharap bisa segera pindah dari rumah itu. Ia mengaku tak tega melihat ketiga anaknya yang masih balita merasakan dinginnya malam yang menyelinap dari sela-sela dinding rumahnya.
“Pengennya pindah, tetapi kita tidak punya uang untuk mengontrak atau bangun rumah. Di sini sudah tidak aman. Kemarin anak saya menjerit ketakutan karena ada ular masuk ke rumah. Bayi saya juga saya tidurkan di ayunan karena kalau di bawah suka banyak semutnya,” kata Heni.
Ketua RW 12 Kampung Bojong, Lukman yang dijumpai di rumah Maulana mengungkapkan, Maulana merupakan warga pendatang dari Jakarta yang menikahi warga kampungnya, Heni. Dia mengaku pernah mengajukan bantuan kepada Pemerintah Kota Tasikmalaya, namun belum mampu direalisasikan.
“Sebelumnya sudah pernah diajukan. Di RW kami tidak hanya Maulana, tetapi ada tiga rumah lainnya yang juga butuh bantuan. Warga di sini juga tidak dapat berbuat apa-apa, karena rata-rata memang warga kurang mampu,” tutur Lukman.
Sementara itu, Lurah Cipari, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya Asep Kusdiana menuturkan, Pemerintah Kota Tasikmalaya tak dapat merehabilitasi rumah Maulana lantaran rumahnya tidak berada di lahan milik pribadi. Sementara syarat pengajuan rumah tidak layak huni salah satunya harus memiliki sertifikat rumah dan tanah pribadi.
“Maulana itu benar warga kami. Tetapi kita tidak bisa mengajukan program RTLH karena rumahnya tidak memenuhi persyaratan. Satu-satunya cara ya warga melakukan swadaya untuk membantu membangun rumah di tanahnya, minimal kerangkanya saja,” ucap Asep saat dijumpai di kantornya. (okz)

