Belum Puasa, Harga Pangan Sudah Mulai Naik

Diterbitkan oleh Redaksi pada Jumat, 13 Mei 2016 14:44 WIB dengan kategori Bisnis dan sudah 876 kali ditampilkan

CIREBON - Jelang Ramadan, harga sejumlah bahan pangan di Kota Cirebon mulai merangkak naik. Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (Disperindagkop dan UMKM) pun mengagendakan operasi pasar. Kenaikan harga, di antaranya terjadi pada ayam potong dan gula pasir.

Berdasarkan pantauan, Rabu 11 Mei 2016, harga ayam potong naik menjadi Rp32.000 per kg. Kenaikan ini merupakan kali kedua. Sebelumnya, harga ayam potong hanya Rp26.000 per kg dan sempat naik menjadi Rp30.000 per kg.

Harga itu bertahan sekitar sepekan sebelum naik kem bali menjadi Rp32.000 per kg.

“Harga daging ayam sudah naik sejak Selasa, 10 Mei. Dari pemasoknya harga ayam memang sudah naik,” ungkap seorang pedagang daging ayam di Pasar Pagi, Kota Cirebon, Maman.

Dengan kondisi tersebut, dia pun terpaksa menaikkan harga dagangannya. Menurutnya, kenaikan harga tersebut dipengaruhi waktu yang akan memasuki bulan ramadan.

“Saya khawatir lonjakan harga yang lebih tinggi saat men dekati ramadan. Tingginya harga ayam bisa mempengaruhi omzet sehari- hari. Penjualan juga pasti turun,” ujarnya.

Selain ayam, kenaikan harga juga terjadi pada gula. Sebelumnya, harga gula hanya Rp12.000 per kg. Namun, kini, gula di jual Rp14.000 per kg.

Rata-rata, kebutuhan gula setiap menjelang Ramadan akan selalu meningkat, sehingga harga pun otomatis naik.

“Tapi kalau harganya naik tinggi sekali, tetap saja mengurangi keuntungan,” kata pedagang sembako di Kecamatan Kejaksan, Ismail.

Selain itu, kenaikan harga juga terjadi pada komoditi lainnya, di antaranya cabai merah dan minyak goreng. Harga cabai merah sebelumnya dijual Rp15.000- Rp16.000 per kg. Kini, Rp23.000 per kg. Menurut seorang pedagang sayur di Pasar Pagi, Juju, kenaikan harga cabai merah lebih tinggi dibandingkan komoditi lain.

“Harga cabai merah naiknya tinggi sekali dibanding bahan lain,” tuturnya.

Dia memperkirakan, kondisi tersebut terjadi akibat tingginya permintaan cabai merah, terutama menjelang ramadan. Dia pun mengkhawatirkan tingginya permintaan cabai merah berdampak pada menurunnya penjualan.

Terpisah, Kepala Disperindagkop dan UMKM Kota Cirebon Agus Mulyadi berencana menggelar operasi pasar dan memonitor harga ke sejumlah pasar tradisional di Kota Cirebon.

“Monitoring ke pasar tradisional akan kami lakukan jelang puasa nanti,” katanya. Monitoring dimaksudkan untuk mengetahui kenaikan harga yang terjadi menjelang Ramadan tahun ini.

Monitoring dan pengawasan harga sejumlah bahan pokok bahkan akan terus dilakukan hingga menjelang lebaran mendatang. Bila kenaikan harga bahan pokok mencapai lebih dari 10 persen, operasi pasar pun akan digelar.

Untuk dana operasi pasar tahun ini berasal dari APBD Provinsi Jawa Barat dan APBD Kota Cirebon. Namun, dia mengaku, untuk dana dari Pemprov Jabar belum diketahui nilainya.

“Kalau untuk dana operasi pasar dari APBD Kota Cirebon akan digunakan untuk 1.600 paket sembako,” ujarnya.

Penjualan paket sembako, lanjut Agus, akan menggunakan pola subsidi. Dia menyebutkan, tahun lalu, satu paket sembako disubsidi hingga 50% dari harga normal.

Disinggung ketersediaan daging sapi dan koordinasi dengan Bulog, diakuinya belum dilakukan.

Dia beralasan, Bulog biasanya menyediakan daging sapi beku, sedangkan konsumen di Kota Cirebon rata-rata menginginkan daging segar. (okz)