Hiasan Lampu Tujur Likur Sudah Mendekati Hari

Diterbitkan oleh pada Senin, 30 Mei 2016 21:32 WIB dengan kategori Lingga dan sudah 2.004 kali ditampilkan

LINGGA, Terkininews.com - Tradisi hiasan lampu malam Tujuh Likur yang setiap tahun dirayakan masyarakat di Lingga pada malam 27 Ramadhan sudah mulai nampak akan disemarakkan.

Menjelang memasuki bulan suci Ramadhan, yang lebih kurang akan dilaksanakan 1 minggu lagi oleh umat muslim dunia, kini di Lingga upaya untuk menyambut hal itu sudah sangat terlihat jelas.

Ardi (32) salah seorang warga Daik Lingga mengatakan, khususnya di Kabupaten Lingga yang banyak menyimpan tradisi-tradisi bergaya islami, tak lekang juga salah satu tradisi hiasan lampu yang dipasang pada sebuah gerbang yang dibangun khusus pada Ramadhan saja. Upaya pemuda-pemuda di Daik Lingga demi menyemarakkan malam turunnya Lailatul Qadar itu sudah terlihat sekarang meski belum memasuki Ramadhan. Pembuatan gerbang tersebut, telah di lahirkan sejaka dahulu kala dimasa Sultan Lingga bertahta, dan sampai saat ini pintu gerbang yang lebih akrab dikenal telah menjadi ikon dalam menyambut bulan suci Ramadhan.

"Membuat pintu gerbang ini, kita dengan cara gotong royong, kita mengambil kayu nya di hutan sama - sama. Dengan begitu, kebersamaan dan kekompakan kita terlihat," ungkapnya Senin (30/5).

Dia katakan, pesta taburan lampu pelita bisa dijumpai saat malam 27 Ramadhan disejumlah ataupun seluruh perkampungan atau kota di Lingga dan untuk masyarakat Lingga biasa dikenal dengan malam tujuh likur. Tidak hanya pada tiap gerbang yang dibangun saja, namun melebihi itu, setiap satu rumah biasa sediakan 20 - 50 pelita yang dipasang terangi halaman rumah berjejer hingga kejalan kota dan desa di Lingga. Bayangkan saja jika seluruh rumah di Kabupaten Lingga andil semarakkan malam Tujuh Likur akan terasa gemilau cahaya pelita dari kota sampai pelosok desa.

"Ini sudah kita lakukan turun temurun, bukan kali ini saja, di Singkep, Lingga Utara, serta Kecamatan lainnya di Kabupaten Lingga juga melakukan hal yang sama," ucapnya.

Biasanya demi menjadikan sebuah pintu gerbang pelita tersebut, tiap pemuda dan masyarakat swadaya dana. Biasa tiap rumah dikenakan angka 20 - 50 ribu atau seikhlasnya namun untuk pemuda karena masih antusias dan semangat akan dikenakan angka yang agak lebih tinggi. Tak jarang juga pihak pemerintahan dari tiap instansi dan dari pengusaha turut menyumbang karena sifat gotong royong masyarakat di Lingga masih dapat dirasakan. Bahkan dari sejumlah pintu gerbang tersebut biasanya juga dijadikan event perlombaan kreativitas hiasan ukiran lampu yang dinilai dari komposisi dan keunikan gaya islami yang diselenggarakan pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lingga. Dalam event ini pihak pemuda hanya menyumbangkan tenaga dan pemikiran kreatif demi menjadikan pintu gerbang yang menarik sementara untuk biaya akan disumbangkan pihak dinas. (Arpa)