Pengungsi Afrika : Jangan Takut, Rezeki Dari Allah
Namun sepertinya kesedihan hanya sebatas pada tenda saja. Karena senyuman mereka terlihat terlalu bahagia saat menyembut kami jam 11.00 pagi tadi 2/7/2016)“Assalamualaikum, Kaifa Haluk? (Apa Kabar?)” demikian kata Abdul Hakim Saat menyambut kedatangan kami. Bahkan dia lebih dulu menyambut kami. Lalu percakapanpun berlanjut seakan kami sudah cukup lama berteman.
Percakapan kami berlangsung cukup lama hingga disalah satu bagian rekan kami bertanya “bagaimana dengan makan kalian?” dan jawaban yang kami terima dari mereka cukup menampar “jangan khawatir makan itu Allah yang kasih” serentak kami yang hadir sempat terdiam dan kemudian mengucap ”Subhanallah”.
Para pengungsi ini mengaku cukup bersyukur meski hidup dibawah tenda pengungsian seperti sekarang. Karena para pengungsi ini mengaku selama berada dalam pelarian mereka bisa lepas dari ancaman perang yang tiada henti selama bertahun-tahun di Negara mereka, Somalia dan Sudan. “anak saya masih kecil. Sekarang masih disudan bersama orang tua saya” kata Hakim menceritakan kepada kami
Meski di Batam baru beberapa bulan. Namun keberadaan mereka di Indonesia sendiri sudah cukup lama “Saya dulu di makasar dan pernah juga di Jakarta” kata Yahya. Yahya merupakan pria berbadan besar berusia 31 tahun yang sudah cukup lama menjadi pengungsi. Bahkan karena lamanya ia cukup lancar berbahasa Indonesia.
Saat ini pengungsi dari Afrika sendiri berjumlah 17 orang, 12 laki-laki dan 5 perempuan. Diantara mereka ada seorang anak berusia 3 tahun bernama Abdurrahman.
Sampai saat ini belum ada tindakan pasti yang diambil pihak pemerintah Kota Batam maupun DPRD terkait keberadaan para pengungsi tersebut. Mereka sendiri saat ini hidup dari belas kasihan warga yang silih berganti datang membawa bantuan “orang Indonesia baik-baik, mereka bawakan kami makanan, tikar, baju. Kemarin juga ada yang bawa kami semua kerumah sakit untuk periksa kesehatan”kata Yahya.

