Ramadan Efek
Bulan Ramadan segera berakhir, kini umat Islam di seluruh penjuru dunia memasuki bulan kemenangan atau bulan syawal, hari raya idul Fitri. Tentunya kita semua berharap bulan pendidikan dan pelatihan bagi umat yakni bulan Ramadan yang telah kita lewati itu mampu memberikan efek bagi kita.
Berbagai amalan yang kita jalankan mulai dari salat tarawih, tadarusan, zakat dan amalan-amalan lain yang kita nilai mampu menambah bonus pahala kita untuk mempermudah langkah kita menuju surga-Nya telah pun dilakukan pada bulan yang mulia itu.
Namun, kita juga mesti ingat ketika kita menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan dan ibadah-ibadah lain, kita memiliki tujuan dan sandaran yaitu ingin memperbaiki diri untuk perubahan yang lebih baik dengan niat membuktikan cinta kepada Allah SWT melalui berbagai amalan yang telah penulis sebutkan dimuka.
Namun, apa fenomena yang terjadi setelah Ramadan berakhir. Tanpa disadari sebagian muslim mulai kembali pada tabiat aslinya. Maka merugilah setiap muslim yang tidak bisa mempertahankan kuantitas dan kualitas amalan atau ibadah setelah Ramadan karena pada prinsipnya kita mesti berubah setelah Ramadan. Inilah yang kemudian penulis sebut Ramadan Efek. Ramadan harus memberikan efek yang luar biasa bagi diri kita. Harus ada peningkatan kuantitas dan kualitas ibadah sebab itu merupakan bukti berhasil atau tidaknya kita menjalankan amalan setelah Ramadan.
Baiklah, secara sederhana ada dua hal menurut penulis jika Ramadan itu memberikan efek di setiap hati kita. Pertama, hubungan kita kepada Allah SWT semakin kuat. Ramadan mengajarkan kepada kita bahwa kita harus benar-benar yakin bahwa Allah SWT adalah Tuhan yang berhak kita sembah dan tidak menduakannya dengan apapun.
Kedua, hubungan kita kepada sesama manusia semakin baik karena kita diajarkan untuk saling berbagi melalui zakat bahkan dianjurkan juga untuk memberikan buka puasa bagi muslim. Ini membuktikan bahwa Islam mengajarkan kepedulian dan tidak hanya beribadah secara individu tapi mampu bermanfaat bagi manusia yang lainnya.
Permasalahannya, kita bisa lihat setelah Ramadan. Apakah benar dua hal tersebut kita lakukan. Tentu hanya kita yang tahu.
Kita berharap dua hal di atas bisa istiqomah kita jalankan. Namun, perlu penulis akui tidak mudah untuk mengaplikasikan nilai-nilai Ramadan mengingat sebelas bulan ke depan kita akan banyak menghadapi tantangan dan ujian yang sangat berat. Nah, melalui tulisan ini penulis mencoba sembari mengingatkan penulis secara pribadi untuk sama-sama kita melanggengkan ibadah kita dan hubungan kita sesama manusia seperti di bulan Ramadan. Dan istiqomah adalah kunci utamanya.
Benarkah kita untuk melanggengkan amalan setelah Ramadan dan mudah-mudahan bermanfaat bagi penulis dan pembaca. Dari berbagai sumber dan website yang penulis kutip ada sekitar sepuluh sarana yang dapat membantu kita untuk istiqamah melakukan amal shalih setelah Ramadhan berlalu. Pertama, Berdo’a dan memohon pertolongan kepada Allah agar di berikan hidayah dan keistiqamahan. Di dalam al-qur’an Allah memuji orang-orang yang berilmu ketika berdo’a: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”.QS. Ali Imran (3) : 8.
Kedua, memperbanyak bermajelis dengan orang-orang shalih dan majelis-majelis dzikir seperti, ceramah-ceramah yang didalamnya dikaji permasalahan-permasalahan agama. Ketiga, mempelajari perjalanan hidup para ulama melalu buku-buku yang membahas hal tersebut atau dengan mendengarkan kaset-kaset dan cd-cd terutama perjalanan hidup para Sahabat -radhiyallah anhum ‘ajma’in- karena dengan hal tersebut bisa membangkitkan semangat-semangat kita untuk meneladani mereka. Keempat, banyak mendengarkan kaset-kaset ceramah yang berisi nasehat dan wejangan yang bisa membekas dalam hati-hati kita.
Kelima, bersemangat dalam mengerjakan ibadah-ibadah wajib seperti, shalat lima waktu dan mengganti puasa ramadhan. Karena dalam ibadah-ibadah wajib tersebut terdapat kebaikan yang besar dan banyak. Keenam, besemangat dalam melaksanakan ibadah-ibadah sunnah meskipun hanyak sedikit, karena sesungguhnya amalan sunnah yang senantiasa kita kerjakan meskipun sedikit itu lebih disukai Allah ta’ala ketimbang amalan yang banyak tapi tidak selalu dikerjakan sebagaimana yang telah di sabdakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.
Ketujuh, mulai menghapal Al-Qur’an dan senantiasa membacanya dan membaca apa yang telah dihapal di shalat-shalat wajib maupun sunnah. Kedelapan, memperbanyak istighfar dan dzikir kepada Allah karena sesungguhnya ia adalah amalan yang ringan tetapi manfaatnya sangat besar yang mana dzikir bisa menambah keimanan dan memperkuat hati. Kesembilan, Menjauhi sejauh-sejauhnya segala perusak-perusak hati seperti, teman-teman yang buruk, peralatan-peralatan elektronik yang merusak seperti televisi dan lain-lain. Kesepuluh, dan yang terakhir adalah dengan bersegara bertaubat kepada Allah ta’ala dengan taubat yang sebenar-benarnya (taubah an-nasuha) karena sesungguhnya Allah sangat bergembira dengan taubat hamba-Nya.
Selain itu, agar kita tidak terjebak dalam kefoya-foyaan dihari kemenangan nanti, kita juga mesti mampu istiqomah dalam menjalankan ibadah-ibadah amalan kita yang biasa kita lakukan pada bulan Ramadan seperti tilawah Alquran, salat berjamaah dan lain sebagainya karena sadar atau tidak dan hal yang terpenting adalah bagaimana kita mampu menjaga kualitas iman. Iman itu dapat berkurang dan bertambah.
Persoalannya, bagaimana kita menjaga stabilitas iman? Pertanyaan ini harus segera dijawab sebelum bulan Ramadan berakhir karena menurut saya, puasa pada bulan Ramadan ini adalah momentum yang pas untuk meningkatkan kualitas iman. Kalau pada bulan-bulan sebelumnya mungkin aktivitas ibadah yang kita lakukan relatif sedikit, tetapi dengan datangnya bulan Ramadan secara kuantitas aktivitas ibadah yang kita jalankan menjadi banyak dan alangkah lebih baik lagi ibadah yang dilakukan itu memiliki nilai kualitas dengan meningkatkan ilmu dan pemahaman terhadap ibadah yang dilakukan.
Apalagi pasca Ramadan, mungkin tidak satu orang pun di dunia ini yang ingin menjadi lilin. Sengaja saya umpamakan lilin karena semangat ibadah puasa kita justru cenderung terang-benderang di saat lilin pertama kali dihidupkan. Akan tetapi, ketika Ramadan usai seolah-olah ibadah kita redup seperti lilin yang awalnya terang namun padam dimakan oleh waktu. Hanya sebagian umat Islam saja yang mampu bertahan dan menjaga stabilitas keimanannya pada sebelas bulan ke depan. Padahal, kalau dimaknai lebih jauh datangnya bulan Ramadan adalah upaya untuk memperbaiki diri dan iman sebelas bulan ke depan.
Namun, sebelum menjawab bagaimana kita menjaga stabilitas iman, penulis mengajak pembaca sekalian untuk merenungi penyebab berkurangnya keimanan. Menurut Dr. Faishal Al-Hulaibi (2007; 21-42) ada sembilan hal yang menyebabkan melemahnya iman antara lain tiada penjagaan terhadap iman, jahil terhadap jannah dan janji-janji Allah, merasa jauh dari azab dunia dan meremehkan azab akhirat, panjang angan-angan, memaksakan diri dalam beribadah, membuat hal-hal baru dalam agama, tidak memahami marifatullah dengan benar, meremehkan dosa-dosa kecil dan lalai mengintropeksi diri.
Dengan demikian, dapatlah kita simpulkan bahwa upaya menjaga stabilitas keimanan adalah suatu yang harus kita lakukan dengan berhati-hati menjalankan ibadah serta ikhlas dalam menjalankannya. Selain itu, untuk menjaga stabilitas keimanan kita, kita harus senantiasa meningkatkan ketaatan dan kepatuhan kepada Allah SWT atas perintah-perintah-Nya dan menjalankan ibadah dengan penuh loyalitas dan konsisten menjalankanya dengan ilmu dan pemahaman yang kaffah (menyeluruh).
Semoga Ramadan dan ibadah puasa kita saat ini mampu meningkatkan kualitas keberimanan kita semua dan memberikan efek yang begitu positif bagi perubahan hidup dan kehidupan kita. Kepada seluruh pembaca penulis mengucapkan selamat hari Raya Idul Fitri, semoga amal ibadah kita selama Ramadan di terima-Nya dan Dia mengizinkan kita untuk berjumpa pada bulan Ramadan tahun depan. Amin.
*Pimred Terkininews.com dan Pembina Komunitas Pemuda Pejuang Subuh

