Partai Buruh Desak PM Australia Mundur

Diterbitkan oleh Redaksi pada Senin, 4 Juli 2016 21:38 WIB dengan kategori Internasional dan sudah 862 kali ditampilkan

CANBERRA.- Pemimpin Partai Buruh Bill Shorten mendesak Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull segera mundur karena partai petahana kini bukan lagi mayoritas di parlemen. Komposisi anggota parlemen petahana berubah setelah Partai Liberal dalam pemilu yang baru saja berakhir, hanya meraup 68 kursi.

Liberal kehilangan sejumlah kursinya karena massa pemilih mengalihkan dukungan mereka ke kelompok independen dan sejumlah partai kanan, termasuk Partai Satu Bangsa.

"Dia awalnya menggelar pemilu dini untuk memastikan stabilitas politik, tetapi yang terjadi justru dia telah memicu instabilitas," ujar Shorten seperti dilaporkan Guardian, 4 Juli 2016.

Menanggapi desakan tersebut, Turnbull masih belum mengomentari itu. Yang jelas, usai pemilu berakhir, Turnbull mengatakan bahwa dirinya masih akan menjadi perdana menteri dengan dukungan koalisi Partai Liberal. Sementara sejumlah anggota kabinet PM Turnbull menegaskan bahwa bos mereka masih akan tetap melanjutkan pemerintahan. Pasalnya, Turnbull punya sejumlah kebijakan visioner. Menteri Kabinet Australia Arthur Sinodinos mengatakan, Australia butuh kebijakan Turnbull untuk menghadapi abad ke-21 ini.

Menteri Inovasi Australia Christopher Pyne juga mengemukakan pendapat senada. "Warga hanya menginginkan pemerintahan yang solid bukan omong kosong para politisi," ujarnya.

Hasil lengkap pemilu Australia rencananya akan diumumkan Selasa 5 Juli 2016. Yang jelas, insiden parlemen menggantung seperti yang terjadi saat ini juga menimpa pemerintahan partai petahana pada pemilu 2010 lalu. Saat itu, warga Australia harus menunggu selama 17 hari usai pemilu berakhir lantaran tak ada partai yang menjadi mayoritas. Akhirnya Partai Buruh di bawah kekuasaan Julia Gillard melakukan koalisi dengan sejumlah partai kecil.

Namun tiga tahun kemudian, partai petahana kalah setelah pemilu dini kembali digelar. Tonny Abbott dari Partai Liberal pun menjadi pemimpin Australia sebelum akhirnya digulingkan partainya sendiri lewat mosi tak percaya pada 2015 lalu. Saat itulah Turnbull menggantikan posisi Abbott.

Turnbull yang merasa dukungan terhadap partainya menurun memutuskan menggelar pemilu dini 2 Juli lalu. Sayangnya, hasil pemilu tak membuat partainya menang mutlak sehingga harus membentuk koalisi.