Agama, Budaya dan Kedudukannya

Diterbitkan oleh Redaksi pada Ahad, 28 Agustus 2016 21:51 WIB dengan kategori Opini dan sudah 1.701 kali ditampilkan

Pembangunan erat kaitannya dengan hidup kerohanian. Pokok-pokok dasar itu tiada lain telah tertunjuk pada manusia baik sendiri-sendiri, keluarga, serta bermasyarakat. Sendi kekuatan terdapat pada mental-mental pembangun dengan hidupnya hati, dengan tidak memandang pada perebutan harta, kedudukan serta kekuasaan atau kebendaan. Perjuangannya telah terbangun dengan terbangunnya mental dalam keyakinan beragama.

 Sebagai akibat dari hidup kerohanianlah yang menjadikan seseorang terhubung kuat kepada Allah SWT yang merupakan sendi kekuatan batin dan merupakan dasar segala macam pembangunan yang digerakkan oleh Nur Ke_Ilahian melalui media hikmah atau petunjuk dari_Nya,  kuat solidaritasnya sesuai dengan keyakinan beragama serta rasa cinta terhadap apa yang dikenal_Nya. Karenanya keberhasilan manusia mengatur berbagai macam mahluk lainnya adalah berhasilnya hati yang bersih sebagai mediasi untuk memohon bimbingan petunjuk dari_Nya untuk mengatur segala urusan didalam kehidupan dunia.


Namun tampaknya globalisasi telah mengeruhkan sendi-sendi kekuatan bathin. Akibatnya terdapat pergeseran tata kelakuan sebagai hasil dari pembauran berbagai benturan yang teraduk-aduk dalam gelombang kehidupan. Problematika sosial kehidupan antar bangsa dan negara kini memicu tarik menariknya pengaruh serta penempatan budaya. Pengaruh begitu hebat akan melelehkan budaya-budaya bangsa yang sekian lama sudah tertata, merusaknya dengan berbagai kegemaran yang menurut budaya mereka yang baru itu lazim dan tidak tabu untuk dilakukan maskipun dimuka umum. Cara pandang nya memuaskan keinginannya semata dengan tiada segan melanggar berbagai macam norma, bahkan keluar dari kodrat nya sebagai manusia ciptaan Tuhan.

Atas nama diplomasi serta teknologi informasi dan komunikasi dipergunakan untuk menyerang berbagai macam budaya yang ada disetiap bangsa dan negara. Lalu dihancurkan serusak-rusaknya perangain muda-mudi bangsa dan negara. Ditimbulkan olehnya berbagai api fitnahan, kedengkian yang begitu hebat hingga amarah berlangsung dengan perbuatan menyakiti satu sama lain. Apa bila muda-mudi terlena dan terbawa oleh budaya-budaya baru tersebut, jinak hati terhadapnya, maka tertawalah mereka karena kehancuran suatu bangsa disebabkan anak bangsa tidak dapat mempertahankan budaya-budaya bangsanya sendiri.


Seketika itu juga, pengaruh budaya baru begitu menghebat dan melekat dikalangan muda-mudi dan masyarakat. Hati dan pandangan mata tidak mampu lagi memandang keseimbangan sebab begitu tebal dinding yang menyelimuti mata batinnya. Kerusakan itu merenggut rohani setiap anak bangsa, menggerogotinya, melemparkan dengan noda-noda hitam lagi berlendir. Sehingga tiada sesiapapun yang gigih mengingatkan akan kesuraman hidup itu. Kalau sudah tiada lagi yang memberikan nasehat, maka apa jadinya masyarakat. Kalau sudah bermain subhat, maka hancur leburlah segala macam berkat.

Dan kemudian bersangatan rasa rindu terhadap yang diperbuat, barang siapa yang rindu akan suatu hal pasti ia telah merasakan, dan rasa itu sudah semestinya ia tahu, seterusnya ia pasti akan mencari, cari ia hingga menemukan. Tidaklah dikatakan rindu itu suatu kesuraman dan tidak pula kenistaan, serta tidak pula lantai, dinding dan langit berbeda makna tujuan. Hanya kedudukannya perlu ditekankan.


Lantas dimana kedudukan budaya di hadapan agama ? apakah budaya mampu merubah keyakinan beragama atau agamalah yang akan merubah budaya. Atau agama dan budaya berjalan beriringan ? Bagaimana dengan filsafat, dimana kedudukan filsafat di hadapan agama dan budaya. Apakah filsafat itu nama lain dari agama, setingkat dengannya, atau filsafat merupakan budaya dalam beragama. Kalau pun demikaian untuk apa ada agama jika filsafat telah mengangkat derajat manusia.


Agama ialah tumpu bagi pengungkit. Mempelajari dan mengamalkannya, agar berat kedua sisi sama tiada lebih. Isinya merupakan surat-surat dari Tuhan Yang Maha Pemurah. Seperti pena yang dituliskan di atas kertas oleh penulis. Pena ialah agama, kertas adalah dunia dengan tinta susunan bertingkat maupun berserak ialah kehidupan. Agama akan membawa manusia dengan bersikap dan bersifat dengan katentuan_Nya. Jangan akal mendahului hati sehingga indah telah tersusun rapi. Tidak pula benar oleh akal dan buruk oleh hati itu menemui indah. Ketiganya saling kait mengkait dalam keragaman untuk satu kesatuan utuh.

Dinamakan sabar itu tempatnya dihati tidak pada lainnya. Sebagaimana yang diisyaratkan oleh para nelayan bahwa ikan itu bertempat tinggal di air, keruh jernihnya adalah sifat air. Jernih ia akan mendatangkan rezeki dengan banyaknya hasil tangkapan, karena jernih itu menampakkan segala yang nampak. Keruh itu merabunkan dan suatu kesusahan bagi nelayan, sedikit tangkapannya dan sukar tujuannya.


Adapun akal itu tempatnya dikepala. Yang tertinggi, tampak lahir diantara yang tinggi-tinggi. Tidak pula yang tertinggi itu tinggi pada hasilnya, ia bergantung pada akhlak akal. Sesungguhnya akal itu memiliki akhlak dan akhlak akal itu berbeda dengan akhlak hati. Akhlak akal itu bertumpu pada sebagian dari akhlak hati, seperti mencuri itu dilarang, ia mengambil yang bukan haknya dan itu tidak baik pada pandangan hati berdampak pada kerugian orang. Sesungguhnya kerugian hati lebih berat dari kerugian akal. Sebagai contoh, dua potong kayu. Satu setengah potong untuk hati dan setengah potong kayu untuk akal. Maksudnya ialah mencuri itu tidak benar dan tiada berat pada akal, namun berat beban pada hati oleh karna menganiaya orang lain. Berat beban itu di tumpukan dihati, oleh tergoresnya hati akan kekejian. Berat itu rasa dan salah itu tahu. Tidaklah tahu itu lebih menyakitkan dari pada rasa. Akal itu sembunyi dibelakang hati, kecil wujudnya dan tidak mampu mengambil apa yang hendak diambil. Karna ambil itu perintah hati, sudah cukup yang lahir untuk menuruti.

Adapun filsafat adalah tentaranya akal. Tidaklah dikatakan bahwa filsafat itu tentara hati. Cinta kebijaksanaan yang dimaksudkan ialah bijak sana pada kehidupan akal, kebijaksanaan akal. Ibarat memilih dan membeli pemimpin. Hakikatnya amanah itu diberikan kepada yang berhak menerimanya. Dan pemimpin itu berat beban pada pundaknya oleh beban-beban rakyatnya. Tidaklah rakyat itu menanggung beban yang dipikul oleh pemimpinnya melainkan cukup baginya saja.


Antara memilih dan membeli merupakan dua kata yang saling bertolak belakang. Memilih diibaratkan seperti dua potong roti yang tergeletak dimeja hidang, yang dihidang oleh pelayan-pelayan restoran. Para pelayan restoran berdiri rapi diantara satu orang dengan dua potong roti. Dua potong roti dihidangkan. Belum diketahui kejadian diantara roti-roti itu. Mengenal tampilan dua potong roti itu ialah tidak mencukupi untuk memberi makan satu pribadi. Untuk itu menjadi tugas para pelayan restoran memberitahukan proses pembuatan serta rasa dari kedua potong roti tersebut, agar layak menjadi ukuran pantas tidaknya satu diantara dua roti untuk dipilih. Yang dimaksudkan memilih disini adalah berdirinya pilihan dengan berdirinya tentara akal yaitu filsafat. Jangan sampai pemilih itu mensia-siakan pemilihnya. Sampailah cita-cita rakyat pada memilih dan memiliki pemimpin pilihan. Makan harapan masyarakat dengan pemimpin pilihannya akan kesejahteraan akan terwujud. Harapan itu adalah tungguan dan tungguan masyarakat itu akan kesejahteraan hidup adalah tungguan yang benar, karna memilih pemimpinnya.


Adapun membeli, memiliki makna kesudahan setelah meraihnya, kecil cita-citanya, buruk perangainya. Pada itu terdapat dua ulasan. Pertama membeli adalah dengan wujub barang, kedua membeli dan penjual.Pertama membeli adalah dengan wujud barang, dipraktekkan bahwa money politik itu dilarang. Terlarangnya oleh karena suatu kerugian. Jangan dikatakan bahwa sipemberi uang itu pintar, yang sesungguhnya dia itu lebih tepat dibilang dungu. Dungu itu karna kurangnya ilmu dan amal sehingga kalah oleh dengan lawannya yaitu nafsu berkeinginan. Nafsu itu telah mengeras, mengagap enteng dan mudah apa yang sudah ditakar oleh Tuhan Yang Maha Pemurah. Sehingga dihalalkan apa yang menjadi angan-angannya. Seyogyanya dengan kebijaksanaan akal menentang keras akan hal itu, sebab tiada yang diuntungkan olehnya.


Kedua membeli dan penjual, ada kalanya barang itu merupakan hasil karya, maka olehnya dicarikan pembeli. Pembeli itu adalah orang yang berkeinginan keras untuk mendapatkan keinginanya. Maka tidak boleh tidak ia mengeluarkan banyak cara untuk mendapatkan keinginannya tersebut, uang adalah tempat ia bicara. Lalu dibelinya barang tersebut dengan harga tertinggi. Dijelaskan bahwa barang itu benda mati, merupakan karya manusia. Dan tidaklah ada karya tertinggi melainkan karya Tuhan Yang Maha Pemurah, ialah manusia. Hakikatnya tidaklah manusia membeli manusia dan tidak pula manusia membeli takaran Tuhan Yang Maha Pemurah dengan harga murah. Sesungguhnya harga diri adalah pemberian Tuhan yang tiada ternilai harganya, berat timbangannya. Dan money politik itu suatu kekejian dan penghinaan terhadap manusia dan Tuhan oleh karenanya membeli harga diri dengan uang. Jangan tidak dikatakan kalau didapati pemimpin yang tidak amanah itu suatu tujuan sipenjual. Pemimpin amanah adalah angan-angan bagi masyarakat, dan itu suatu tungguan di antara lobang-lobang selang yang kosong. Maka tungguan masyarakat itu lebih tepat dikatakan tungguan dungu. Karena harap dan angan-angan itu berbeda, harap itu berisi dan angan-angan itu kosong.


Teranglah bahwa agama, filsafat dan budaya itu berbeda. Budaya adalah jubah bagi agama, apa bila agama tidak dibarengi dengan budaya maka telanjanglah agama. Terbuka ia oleh yang tertutup rapat dengan segala macam rahasia. Malu menjadi bebannya apa bila ia tahu malu dan sebaliknya. Sementara filsafat itu adalah ilmunya orang-orang muslim yang memantapkan akal dan mempertinggi akhlak bila mempelajarinya.

Demikian penjelasan antara ketiga maksud tersebut. Kerusakan adalah dampak dari rusaknya salah satu dari ketiga kata diatas dan tidak dipungkiri ketiganya rusak. Maka menjadi pekerjaan bersama untuk memperbaiki kerusakan. Mempelajari serta menelusuri faktor penyebab itu menjadi tujuan. Karena segala sesuatu ada sebabnya. Mengetahui itu akan memudahkan dalam perbaikan untuk menelusuri solusinya. Seperti kapal yang berlayar ditengah lautan, tidaklah kapal itu akan tenggelam dan terhenti bahkan terdampar melainkan adanya kerusakan, dan kerusakan itu bermacam-macam ragam. Kecil bocornya kapal oleh sedikit menyenggol batu maka kecil pula dampak dan pengobatannya. Besar lobang kapal oleh hantaman batu, besar pula dampak dan sukar pula pengobatannya. Pada akhirnya pendidikan itu solusinya. Yang utama diantara yang pertama ialah pendidikan agama dan keluarga ialah tempat ia bercengkrama untuk membentuk pribadinya.


*Mahasiswa Ilmu Pemerintahan STISIPOL Raja Haji Tanjungpinang, Kepulauan Riau