TOC Solusi Pembinaan Guru Berbasis Personal

Redaksi Sabtu, 24 Desember 2016 18:13 WIB
526x ditampilkan Jakarta Nasional

JAKARTA, -- bertempat di Gedung Pusat Pelatihan Kementerian Agama sekitar 65 guru dari 6 provinsi di Indonesia berkumpul di Gedung Pusat Pelatihan Kementerian Agama di Kawasan Pulo Gebang, Jakarta Timur, sabtu (24/12/2016)

pemaparan terhadap kawan IGI, TOC Ini adalah TOC kesembilan dari 12 rencana TOC dalam Program Persiapan Pelatih Nasional Tahap Kedua setelah sebelumnya sukses dengan TOT di Surabaya Oktober 2016 silam.

Mereka yang hadir adalah calon pelatih nasional IGI yang akan melatih guru-guru di Indonesia bukan hanya dalam forum-forum pelatihan tetap gerakan Visit Ti School dan Gerakan Guru melatih Guru.

Kembali ke pertanyaan awal, mengapa TOC bukan TOT, saya menjelaskan bahwa ada 4 kategori guru kita di Indonesia.

Pertama, Guru Hebat, Guru Jago Tapi Tak Mau dan Tak Punya Kemampuan Berbagi. Jika bapak ibu bertemu guru berprestasi, juara dimana-mana tapi tak ada guru di sekitarnya bahkan di Sekolahnya yang bisa seperti dia maka guru itu masuk kategori ini.

Kedua, Guru Tidak Hebat, Tapi Mau Berbagi. Kategori ini guru ini banyak melayani, mereka orang baik tapi memang tidak banyak hal yang bisa dibagikan. Guru seperti ini disayangi banyak orang meskipun mungkin tak bisa melatih orang lain.

Ketiga, Guru Tidak Hebat dan Tak Mau Berbagi. Guru kategori ini biasanya banyak protes, sok tahu, sok hebat dan banyak melecehkan dan merendahkan guru lain tapi tak punya solusi perbaikan. Guru kategori ini biasanya banyak menjadi penjilat penguasa atau pengambil kebijakan karena mereka tak akan punya posisi jika tak menjilat. Celakanya mereka suka mencari-cari kelemahan dan kesalahan orang lain.

Keempat, Guru Hebat, Guru Berprestasi dan Memiliki Kemampuan Berbagi Yang Amat Sangat Tinggi. Guru kategori ini malah seringkali tak terlihat karena mereka begitu rendah hati tapi tak sungkan membantu siapapun yang membutuhkan. Ketika diberi tanggung jawab akan menjalankan tanggungjawab itu dengan baik tapi ketika terjadi perebutan "kekuasaan" mereka cenderung tidak melibatkan diri.

Itulah mengapa saya tak pernah khawatir dengan bermunculannya organisasi guru yang baru, tak pernah khawatir guru-guru IGI digoda organisasi lain dan tak pernah khawatir siapapun yang ingin pindah atau keluar dari IGI. Saya yakin betul, ini karakter IGI, karakter yang tidak dimiliki oleh banyak organisasi.

Lalu mengapa TOC?
Jika TOT hanya akan melahirkan Trainer atau Instruktur yang hanya terlibat dalam forum-forum, berbicara lantang dan sok hebat dalam ruang-ruang pelatihan dan tak banyak bisa berbagi diluar pelatihan, maka TOC kami harapkan menjadi guru seperti pelatih sepak bola atau pelatih tinju, mereka bukan berceram di depan pemain atau orang yang dilatihnya tapi mendampingi, melatih, meningkatkan kemampuan orang yang dilatihnya sampai "BISA"

Jika Trainer lebih dekat ke istilah Narsum maka Coach kami harapkan lebih dekat ke Pelatih. Seorang pelatih tetap bisa memberikan arahan dan latihan kepada mereka-mereka yang dilatihnya tanpa harus dalam ruangan mewah dan hadiri puluhan atau ratusan orang, seorang pelatih bahkan tak tergantung honor pelatihan dan tak tergantung berapa audiancenya karena pelatih akan memberi ruang kepada orang yang dilatihnya untuk bukan sekedar tahu tapi "HINGGA BISA"

Pelatih bahkan dapat melatih hanya satu orang saja, tentu berbeda dengan nara sumber yang harus berdiri dan berceramah di depan forum.

Jika 12 TOC di 12 Provinsi ini tuntas, maka akan ada 660 pelatih nasional ditambah dengan alumni TOT Surabaya maka IGI sudah akan memiliki lebih dari 800 pelatih, jika setiap pelatih mampu melatih 5 guru saja perminggu, maka dalam setahun akan ada lebih dari 200.000 guru terlatih dalam satu tahun, jadi bukan guru ikut pelatihan tapi GURU TERLATIH. Jika guru ikut pelatihan belum tentu terlatih maka guru terlatih sudah pasti terlatih.

Dalam siaran pers Muhammad Ramli Rahim yang nota bene Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Guru Indonesia mengatakan bahwa ini adalah sebuah gerakan dahsyat dalam upaya meningkatkan kompetensi guru Indonesia. Paparnya pada terkininews.com.(*)