Pilkada Serentak 2018, Apakah Jalur Independen Jadi Pilihan

Diterbitkan oleh Adhie pada Jumat, 17 November 2017 09:41 WIB dengan kategori Headline Makassar dan sudah 1.128 kali ditampilkan

MAKASSAR, -- Ini kajian Akademisi Unismuh terkait Pilkada serentak 2018 dengan dinamika politik yang semakin ramai dibicarakan terkait konstalasi yang terjadi dipanggung politik Makassar.

Terkait kondisi politik saat ini yang semakin ramai jadi perbincangan menuai tanggapan dari Akademisi Unismuh Makassar Muhlis Madani.

Menurut Muhlis, Jum'at (16/11/2018), kepada terkininews.com. mengatakan ada beberapa hal yang perlu dicermati, termasuk fenomena dukungan partai dan posisi petahana pada Pilwalkot Makassar. 

Rekomendasi partai politik yang tak kunjung terbit, sebagai bentuk dukungan partai politik terhadap pasangan calon walikota seakan kekuatan besar yang menahan, hingga berdampak pada belum adanya pasangan yang dipastikan ikut pada perhelatan pesta demokrasi di kota Makassar.

Berbeda dengan kab/kota lain di Sulsel yang juga menghelat Pilkada serentak bahkan di Pilgub Sulsel yang hampir bisa dipastikan pasangan calon yang bakal mendaftarkan diri ke KPU.

"Melihat fenomena politik yang terjadi di kota Makassar, sangat menarik dikaji sebab hingga saat ini masih belum ada kejelasan dari partai politik kepada siapa yang akan didukung, cukup berbeda dengan daerah lain yang juga ikut Pilkada serentak 2018. Apalagi beberapa partai telah melakukan penjaringan namun hasilnya belum juga diumumkan." Papar Muhlis saat ditemui terkininews.com

Partai politik yang punya peranan penting dalam proses demokrasi, sebagai wadah untuk aktualisasi para politisi di kota Makassar memberikan pembelajaran politik yang kurang baik untuk masyarakat, jangan sampai masyakarat kehilangan kepercayaan terhadap partai politik.

Terlebih lagi jika partai telah melakukan proses penjaringan calon sesuai dengan regulasinya masing-masing, secara normatif seharusnya partai politik telah menentukan dukungan berdasarkan proses penjaringan.

Namun menurut mantan aktivis KNPI ini, hal bisa terjadi jika memang ada grand desain yang telah disiapkan untuk pilkada nantinya, dan itu bisa terjadi jika ada kekuatan besar yang mampu membendung agar partai politik menahan arah dukungannya. 

Selain fenomena dukungan partai politik, fenomena yang disoroti Direktur Pascasarjana Universitas Muhammadiyah terkait posisi Incumbent yang sepertinya tidak punya daya tarik bagi Partai Politik sehingga harus melalui jalur independen untuk kembali ikut Pilkada. 

“kondisi yang saya paparkan sebelumnya, bahkan Danny Pomanto seorang Walikota yang sedang menjabat dengan segalanya yang dimilikinya belum juga memastikan diri akan melalui jalur partai politik untuk mendaftar ke KPU, terlebih pasangannya adalah kader salah satu partai yang kabarnya sedang mempersiapkan diri melalui jalur independen. Fenomena politik apa yang terjadi di Kota Makassar?” Ungkap Muhlis Madani.

Dengan segala potensi yang dimiliki Walikota Makassar Moh. Ramdhan Pomanto dengan pasangannya Indira Mulyasari beberapa hari terkakhir sementara mempersiapkan diri dengan mengumpulkan KTP sebagai syarat mendaftar melalui jalur independen. 

Akhirnya timbul kesan bahwa pasangan DIAmi ini kurang memiliki daya Tarik bagi partai politik untuk memberikan dukungan, walaupun beberapa pihak mengganggap bahwa pasangan ini punya peluang menang namun hal tersebut tidak berpengaruh untuk memastikan mendapatkan dukungan.

Hal tersebut juga sangat menarik dijaki sebab dengan posisinya sebagai incumbent, diunggulkan oleh semua lembaga survey, secara finansial konon pasangan ini cukup untuk kuat, sejak menjabat Walikota berbagai penghargaan telah diraih, dan banyak program yang telah diluncurkan. 

Jika betul pasangan DIAmi nantinya akan mendaftar melalui jalur independen maka dampaknya juga akan berimbas pada hilangnya kepercayaan dan dukungan masyarakat terhadap pasangan ini, masyarakat bisa saja berfikir bahwa Partai Politik saja yang cukup pragmatis dan cenderung mendukung calon yang punya peluang besar tidak atau belum mau mendukung incumbent.

Apalagi jika dihubungkan dengan kader dan konstituen partai politik  yang terkadang cukup aktif dalam memberikan informasi ataupun mewacanakan issu ditengah-tengah masyakarat, yang pastinya melemahkan dan merugikan posisi incumbent.

“jika kondisi incumbent terus seperti ini, bisa diprediksi bahwa posisinya akan semakin melemah sebab citra yang terbangun bahwa pasangan DIAmi tidak mampu memberikan keyakinan dan kurang memiliki daya Tarik sehingga pendukungnya bisa saja akan berbalik arah mendukung pasangan lain”. Tutupnya. (yy/*)