Mualaf Sahabat Kita

Diterbitkan oleh Redaksi pada Senin, 19 November 2018 20:51 WIB dengan kategori Headline Opini dan sudah 724 kali ditampilkan

Beberapa minggu yang lalu, penulis bertemu seorang mantan aktifis mahasiswa di sebuah kedai kopi ternama di Tanjungpinang ketika penulis masih aktif di KAMMI tahun 2006 an dulu. Kami berbincang panjang tentang pembinaan mualaf di Kepulauan Riau. Ada beberapa hal penting yang menurut hemat penulis penting untuk diperhatikan. Berikut penulis mencoba merangkum pembicaraan kami yang singkat tapi menurut hemat penulis perlu diseriuskan ke depannya.

Kabar mualafnya artis Roger Danuarta menggemparkan panggung media belakangan ini. Ada banyak testimoni positif maupun negatif di dalamnya. Penulis tidak mau terjebak dalam testimoni tersebut. Ada satu hal substansi menurut hemat penulis yang perlu diangkat dari sebuah fenomena mualaf yakni persoalan pembinaannya.

Dalam Islam, mualaf adalah golongan yang paling dimuliakan dan diperhatikan bahkan seorang mualaf masuk dalam delapan penerima zakat. Sudah sepantasnya kita menyambut gembira kehadirannya. Berdasarkan data mualaf centre Indonesia total mualaf tahun 2017 ada 2,857 orang. Kita harus menyadari keputusan menjadi seorang mualaf bukanlah sesuatu hal yang mudah. Pengalaman penulis berinteraksi dengan mualaf banyak hal yang mereka korbankan. Pertama, keluarga. Kerap para mualaf mendapatkan pertentangan yang cukup ironis. Mereka diasingkan bahkan dicemoohkan. Tidak banyak keluarga yang mampu menerima keputusan seorang non muslim menjadi mualaf.

Kedua, masalah pekerjaan atau ekonomi.  Seorang mualaf kebanyakan bekerja di komunitas yang tidak menerima keputusannya memeluk agama Islam. Dipecat secara hormat maupun tidak hormat. Dua kenyataan ini menurut hemat penulis adalah bentuk ujian yang memang harus dijalani, tapi sebagai muslim tentu hal ini menjadi perhatian kita.

Oleh karena itu, ada dua hal penting yang  perlu dilakukan bagi kita seorang muslim untuk menyambut kehadiran mualaf. Pertama, pembinaan pengetahuan tentang keIslaman dan kedua, pemberdayaan di bidang ekonomi. Dua hal ini sangat penting, karena Islam bukanlah agama yang memaksa orang lain atas dasar taklid (ikut-ikutan), tapi Islam mengajarkan pemahaman dan muslim bertindak atas dasar pemahaman.

Seorang mualaf, perlu dipahamkan tentang konsep Islam yang menyeluruh, mengatur segala jenis sendi-sendi kehidupan. Tidak hanya ibadah ritualitas, tetapi memiliki nilai-nilai atau unsur yang lain. Tentu kita tidak bisa membebankan persoalan ini hanya kepada pemerintah. Kita semua harus peduli untuk membina para mualaf. Di bidang ibadah ritual, kita perlu mengedukasi dalam peribadahan seperti salat, puasa, zakat dan bahkan berhaji sebagai rukun Islam setelah mereka mengucapkan dua kalimat syahadat.

Mereka harus didekatkan dengan kitab sucinya, mereka harus diajarkan bagaimana membaca Alquran yang baik dan benar serta mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tentu ini bukanlah pekerjaan mudah. Yang jelas, mereka perlu kepedulian kita dan bekerjasama untuk melakukan proses pembinaan. Semoga catatan sederhana ini membuka kesadaran dan kepedulian kita untuk bersama-sama membina mualaf.

 

Oleh: Muhamad Alfathoni*

*)Direktur Yayasan Mualaf Centre (YMC) Kepulauan Riau

 

Lampiran