PERSAKMI Sulsel Gelar Pelatihan Peningkatan Kapasitas Bagi Pembina dan Forum Kabupaten/Kota Sehat di Indonesia
LOMBOK, -- Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (PERSAKMI) Provinsi Sulawesi Selatan menggelar Pelatihan dan Peningkatan Kapasitas Bagi Pembina dan Forum Kabupaten/Kota Sehat di Indonesia di Lombok,
Terpilihnya Lombok sebagai lokasi perhelatan pelatihan dari Rabu hingga Jumat, 1-3 Mei 2019 karena permintaan peserta dan juga karena keinginan melakukan kunjungan wisata pada wilayah tersebut terkininews.com Jum'at (3/5/2019)
Prof. Sukri Palutturi, SKM, M.Kes., MSc.PH, PhD selaku Guru Besar FKM Unhas dan juga Ketua Pengurus Daerah PERSAKMI Sulsel menjadi fasilitator utama dari pelatihan ini menyampaikan bahwa tujuan dari pelatihan ini adalah untuk memberikan wawasan global dan implementasi lokal bagi pemerintah daerah terutama bagi tim pembina dan forum kabupaten/kota sehat di Indonesia.
Prof. Sukri yang menjadi guru besar dalam bidang Healthy Cities ini banyak memberikan materi terutama sejarah awal perkembangan Healthy Cities di dunia dan Indonesia, bagaimana konsep global mengenai healthy cities tersebut juga memberikan materi Healthy Cities sebagai setting dan pengembangan mikro setting.
Diketahui hadir dalam pelatihan ini antaralain Direktur Kesehatan Lingkungan Ditjen Kesmas Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr. Imran Agus Nural, Sp.KO yang menyampaikan materi Kebijakan Nasional Penyelenggaraan Kabupaten/Kota Sehat di Indonesia.
Dirinya menyampaikan ucapan terima kasih kepada PERSAKMI Sulawesi Selatan yang terus banyak membantu pemerintah dalam peningkatan kapasitas penyelenggaraan kabupaten/kota sehat di Indonesia. Saya kira di I ndonesia itu masuh banyak kabupaten/kota demikian pula provinsi yang belum terlibat dalam kegiatan ini.
Selain itu, Guru Besar Epidemiologi FKM Unhas yang juga sebagai Ketua Umum PP PERSAKMI, Prof. Dr. Ridwan Amiruddin, SKM, M.Kes., MSc.PH yang juga hadiri memberi materi mengenai perencanaan healthy cities.
Berikut beberapa masukan diberikan ke depan misalnya perlu membuat perencanaan terpadu Healthy yang dikoordinir Bappeda atau pejabat di atasnya, bersama dengan Tim Pembina lainnya dan Forum; perencanaan Healthy Cities harus menyentuh esensi kualitas Healthy Cities yang sehat secara fisik dan sosial; isu Healthy Cities dan masalah perkotaan lainnya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Musyawarah Rencana Pembangunan Daerah; setiap kabupaten/kota perlu membuat pilot-pilot proyek sesuai dengan tatanan kabupaten/kota dan direncanakan secara berkesinambungan; mengembangkan setting-setting yang lebih mikro misalnya pasar sehat, sekolah sehat, penjara sehat, pelabuhan sehat, pulau sehat, rumah sakit sehat, dan Puskesmas sehat.
Perlu penyediaan alokasi anggaran kesehatan dan Healthy Cities minimal 15% dari alokasi anggaran yang ada di desa dan memberi kesempatan pada Forum Kabupaten/Kota Sehat, Forum Komunikasi Desa/Kelurahan Sehat dan Kelompok Kerja untuk mengembangkan kerja sama dengan pihak swasta dan berbagai lembaga donor.
Fasiliator lainnya adalah Muslim Rasyid, Koordinator Kabupaten/Kota Sehat Sulawesi Selatan dirinya banyak mengurai mengenai sistem penilaian dan verifikasi kabupaten/kota sehat. Ini adalah pekerjaan penting dan untuk memahami ini perlu dikenali pilihan setting kabupaten/kota sehat dan indikator-indikator pada setiap setting.
Sebetulnya menurut dia adalah bahwa yang paling penting dalam penilaian tersebut adalah menunjukkan kegiatan yang dilakukan berkaitan dengan tatanan tersebut dan dapat dibuktikan. Selain berkaitan dengan penilaian, maka keterampilan penyusunan dokumen juga menjadi hal yang sangat penting, tambahnya.
Peserta yang hadir dalam pelatihan ini adalah berbagai kabupaten/kota dan provinsi di Indonesia, misalnya peserta dari Kota Semarang baik dari forum maupun dari bappeda, peserta dari Kabupaten Barito Utara, Kabupaten Tanah Bumbu dan juga berasal dari Mataram sendiri. (*)

