Menggedor Sensitivitas Para Politisi Manggarai Barat

Diterbitkan oleh Admin pada Ahad, 5 Januari 2020 13:17 WIB dengan kategori Headline Opini dan sudah 888 kali ditampilkan

Nama Sibun telah menjadi terkenal sekaligus menjadi berita hot di berbagai media massa di Manggarai Barat (Mabar) hari-hari ini. Bahkan di berbagai group media sosial baik WhatsApp maupun Facebook, nama Sibun telah menjadi perbincangan. Bukan soal nama Sibunnya tapi soal foto sebuah jembatan yang dishare oleh Sibun melalui akun facebooknya yang diduga merupakan jembatan di salah satu kali besar di Sano Nggoang, Mabar, Wae Weter. 

Jembatan di Wae atau Kali Weter sendiri merupakan salah satu jembatan besar yang menghubungkan berbagai desa di Sano Nggoang, terutama dari Werang ibukota Kecamatan Sano Nggoang ke arah Desa Golo Manting, Golo Sengang dan Watu Panggal. 

Di setiap tahunnya jembatan ini memang menjadi momok yang menakutkan bagi warga Sano Nggoang. Sebab intensitas air (karena hujan) di kali atau jembatan ini cukup besar. Sehingga di musim hujan seperti saat ini kerap menghalangi para warga dari berbagai desa menuju atau balik ke Werang. 

Pada sebuah group facebook, "Demokrasi Mabar", Sibun men-share foto dan narasi yang cukup memantik diskusi. Komentar pro dan kontra pun muncul begitu rupa. Bukan saja dukungan tapi juga celaan. Seperti biasa, para awak media pun tertantang untuk mencari tau perihal benar atau tidaknya foto tersebut. 

Tak lama setelah itu, sebuah media massa online "komodopos.home.blog" pun meminta tanggapan Camat Sano Nggoang, Syprianus Silprus, perihal kebenaran berita tersebut. Pada wawancara melalui telphon seluler dengan wartawan media tersebut Camat Sano Nggoang menyampaikan bahwa berita tersebut tak benar. 

Intinya menurut Camat yang tergolong muda san pandai bergaul tersebut, jembatan Wae Weter masih dalam kondisi normal. Camat sendiri langsung melihat sendiri kondisi jembatan di lapangan. Sehingga apa yang dikabarkan melalui media sosial yang disampaikan oleh Sibun merupakan kabar yang tak sesuai realitas di lapangan. 

Kita layak menyampaikan apresiasi kepada Camat Sano Nggoang, Bapak Syprianus Silprus, atas reapon baiknya atas apa yang dishare oleh sibun yang menjadi perbincangan publik. Camat seperti ini punya kepedulian yang tinggi atas apa yang terjadi di daerah kepemimpinannya. Semoga peran baiknya menjadi pemantik untuk karir terbaik dalam mengemban mandat publik di Mabar di masa mendatang. 

Ya, dari sini kita dapat memastikan bahwa informasi berupa foto yang dishare oleh Sibun adalah berita yang tak benar alias hoax. Kita, siapapun dan apapun posisi kita, sangat perlu memaafkan kekeliruan yang disampaikan oleh Sibun. Dengan catatan dia tak mengulanginya lagi di masa yang akan datang. 

Pada sisi yang lain, sebagai warga Mabar, kita layak mengapresiasi semangat Sibun dalam merespon berbagai realitas sosial di Mabar. Justru respon ala Sibun merupakan bukti kepedulian warga Mabar atas daerah atau kampung halamannya, Mabar, terutama Sano Nggoang. Apalah lagi Sibun adalah generasi muda yang sedang menempuh pendidikan di tanah rantauan. Apa yang dia lakukan sejatinya adalah wujud cinta atas kampung halaman atau daerahnya.     

Pada konteks lain, Sibun sejatinya telah membangun kesadaran sekaligus memantik kita dalam banyak hal soal beberapa hal di kabupaten yang kaya destinasi wisata, adat istiadat dan panorama alam indah ini. Agar lebih naratif, saya menyebut untuk sebagiannya berikut ini.   

Pertama, memantik kita semua tuk bicara soal pelayanan publik di Mabar. Bukan sekadar infrastruktur yang masih perlu pembenahan, tapi juga soal sensitivitas pemangku jabatan publik yang perlu meningkatkan jenjang dari sekadar politisi ke jenjang sebagai pelayan publik. Pemimpin adalah pelayan, that's the golden rule of leadership. 

Sibun mengajak kita untuk terus mengingatkan para politisi, misalnya, agar tak sekadar pandai menebar janji politik di saat Pilkada dan Pileg, tapi perlu juga untuk membuktikannya pada saat menjabat. Karena janji politik tak boleh sekadar parade janji, ia perlu diwujudkan dalam bentuk pembelaan dan program kerja yang lebih ril. 

DPRD Mabar yang selama ini dirasa hanya "duduk santai", perlu digedor, agar tak lupa janji. DPRD Mabar dengan dana resesnya yang berbasis Dapil mestinya memperhatikan soal ini. Jangan sampai dana reses dan fungsi reses hanya dimanfaatkan untuk kepentingan individu dan kelompok para anggota DPRD Mabar. Sebab mereka wakil rakyat, bukan wakil kelompok. Poinnya, semoga dana semacam itu digunakan untuk hal-hal yang lebih tepat guna lagi. 

Kedua, mengajak kita untuk terus mengkritik diri dan pemimpin kita secara jujur dan tulus. Memimpin artinya melayani. Bila di Mabar masih ada pelayanan publik yang "ngasal" maka sebagai warga Mabar kita perlu bersuara. Bila ada infrastruktur yang belum diperbaiki, misalnya, warga Mabar tak boleh berdiam diri.

Warga Mabar perlu menyadari bahwa dirinya adalah sobjek politik, bukan objek politik. Mereka yang menjabat di lembaga negara, baik di Eksekutif maupun Legislatif, tak boleh merasa lebih "wah" daripada warga Mabar. Mereka adalah pelayan warga Mabar. Oleh sebab itu mereka mesti banyak mendengar. Mereka tak boleh mencukupkan diri sebagai pejabat publik yang hanya berdiam diri, sebab ada hak warga Mabar yang mesti mereka penuhi. Bila tidak, mereka sejatinya telah ingkar mandat sekaligus janji. 

Kita mesti mengakui secara jujur bahwa infrastruktur di Sano Nggoang masih jauh dari ideal bila dibandingkan dengan 11 Kecamatan lainnya di Mabar. Di Sano Nggoang, misalnya, masih banyak kali yang butuh jembatan. Terutama di Desa Golo Sengang dan Golo Manting. Di samping Desa lain yang membutuhkan hal yang sama. 

Ketiga, menyadarkan generasi muda Mabar, baik yang berdomisili di Mabar maupun yang masih di rantaun, agar sensitif dan peduli dengan kondisi pembangunan di Mabar. Selama ini pembangunan masih dirasa hanya terjadi di beberapa titik. Bahkan Labuan Bajo sebagai ibukota Mabar benar-benar menjadi fokus pembangunan. Sementara di Desa dan kampung tak ada perubahan signifikan. Sano Nggoang pun belum begitu merasakan dampak pembangunan bila dibandingkan dengan tempat lain di Mabar. 

Anggaran dari APBD, Dana Desa dan sumbangan Propinsi juga Pemerintah Pusat dinilai tak dirasakan oleh seluruh warga Mabar. Penggunaan anggaran tersebut masih dinilai tak adil bagi semua. Hal ini terlihat dari pembangunan jalan, pengadaan air minum dan listrik yang masih perlu pembenahan dari banyak sisi. Semua ini perlu digugat atau dipertanyakan kepada mereka yang mengemban mandat publik. 

Dalam konteks itu, apa yang dilakukan oleh Sibun layak dipandang dari sisi yang lebih kompleks dan rasional. Bukan melulu soal hoax atau tidaknya foto tersebut, atau dari sisi yang cenderung emosional. Dengan perspektif semacam ini, kita, terutama para pengambil kebijakan publik di Mabar bisa lebih detail dalam menentukan prioritas pembangunan di Mabar. 

Pada konteks yang lain perlu diingatkan bahwa, pemimpin anti kritik adalah pemimpin kehilangan akal sehat dan nurani yang jujur. Sebab suara kritik kerap lebih jujur ketimbang pujian para pendukung dan simpatisan. Padahal pujian adalah biang kehancuran dan malapeteka kepemimpinan. 

Saya percaya para politisi di Mabar masih punya nurani dan telinga yang lebar untuk mendengar kritik warganya. Sembari itu kita mendesak agar para politisi di Mabar terutama yang menjabat di Eksekutif dan Legislatif semakin sensitif dengan suara dan substansi suara warga Mabar, sehingga bisa ditindaklanjuti dalam bentuk kebijakan yang lebih ril. 

Di bukunya yang terkenal, "Purple Cow (2003), Seth Godin berkata, "Everyone's Marketer now". Dua tahun setelahnya, di buku selanjutnya, All Marketers Are Liars (2005), pesan utama Seth Godin berkembang, "Everyone's a storyteller now". Di Tribes (2008), kemudian Seth Godin menjangkarkan pesan besar, "Everyone's a leader now!" 

Ya, setiap kita adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan mempertanggungjawabkan kepemimpinannya. Suka atau tidak suka, setiap kita sesungguhnya terlibat dalam proses kepemimpinan. Paling tidak kita dituntut untuk memimpin diri kita sendiri untuk tahan banting dan mengambil risiko atas setiap pilihan dan sikap kita. Terutama lagi bila kita adalah pemangku jabatan publik, kita dituntut untuk lebih bertanggungjawab.  

Sebagai warga biasa, tanpa bermaksud menggurui, saya menganjurkan kepada Sibun dan siapapun di luar sana untuk membaca dan mengkaji secara mendalam beberapa buku berikut ini: Leiden is Lijden (Dea Tantyo), Social Media Politica (Anwar Abu Gaja), Mencari Pahlawan Indonesia (Anis Matta) dan Melawan Hoax di Media Sosial dan Media Massa (Editor Aep Wahyudin dkk). 

Di atas segalanya, mari mengkritik diri sekaligus para pemimpin kita dengan jujur dan tulus, bukan karena fulus alis duit. Agar semuanya semakin sensitif dan peduli dengan Mabar. Sebab hanya dengan begitulah Mabar semakin maju dan semakin nikmat untuk dihuni. 

Akhirnya, terima kasih banyak kepada Sibun, anak muda Cereng, Desa Sano Nggoang, Mabar yang telah melakukan tugas sejarah bagi kita semua warga Mabar: mengkritik diri dan pemimpin secara jujur dan tulus, walau dengan risiko besar. Sungguh, Leiden is Lijden, memimpin berarti menempuh jalan menderita, ungkap Kasman Singomedjo, sebagaimana yang dikutip Mohamad Roem dalam mengenang seorang tokoh nasional Agus Salim. (*)

 

Oleh : Syamsudin Kadir
Penulis buku "Selamat Datang di Manggarai Barat"