Melihat Derita Pengungsi Palestina di Kamp Dir Balut di Suriah Utara

Redaksi Senin, 13 Januari 2020 08:53 WIB
217x ditampilkan Headline Internasional

Seseorang berjalan melalui jalan-jalan kamp pengungsi Palestina Deir Ballut di distrik Jenderes, utara Suriah. Dia merasa seakan sudah berada di daerah di luar batas waktu. Waktu yang siklusnya tampak singkat di musim dingin. Bersamaan dengan terbenamnya matahari, semuanya menjadi tenang kecuali suara hujan atau angin dingin. Di pagi hari, skenario kehidupan berulang dengan monoton yang sama diulangi setiap hari.

Di sudut sebuah tenda, seorang pengungsi Palestina "Abu Khalil", sambil duduk bertutur kepada kantor berita bebahasa Arab "Quds Press", "Apa yang bisa kita lakukan? Kehampaan tanpa kegiatan hampir membunuh jasad kami. Tidak ada pekerjaan atau kesibukan yang bisa kami lakukan."

Dia menambahkan, “Setiap hari aku duduk di tempat ini. Melarikan diri dari kenyataan ke ingatanku di kamp pengungsi Yarmuk dan berjalan-jalan di dalam kamp dalam imajinasiku melalui jalan yang dulu aku lewasi setiap hari saat berangkat dan pulang dari perpustakaanku.”

Pada saat koresponden “Quds Press” melanjutkan perjalanannya di kamp pengungsi Dir Balut, dia menjumpai puluhan pemuda yang pergi dan datang di setiap kesempatan untuk bergerak setiap kali cuaca sedikit reda. Sementara anak-anak menunjukkan keterampilan mereka dalam melompati genangan-genangan air hujan, mereka mulai bermain bola.


Di tempat lain, seorang wanita Palestina berusia empat puluh tahun mencuci pakaian anak-anaknya di sebuah wadah plastik. Koresponden “Quds Press” menceritakan, yang awalnya ragu-ragu untuk berbicara dengannya, karena gurat kelelahan terlihat jelas di wajahnya, dia mengatakan, “Ketika saya mendekatinya dan tahu bahwa saya adalah seorang jurnalis, dia menyambut saya dengan dialek Palestina. Dengan bercanda dia berkata, ‘Sejak kami datang ke kamp ini, orang-orang media datang ke sini dan yang lainnya pergi. Namun kami masih seperti ini. Kami belum mendapat manfaat apapun dari Anda’."

Wanita Palestina yang dipanggil Umm Imad ini mengatakan, "Setiap hari saya memiliki pesta cuci. Saya punya empat anak, jalanannya berlumpur dan tidak ada listrik sejak kami datang."

Kepada koreponden Quds Press, Umm Imad mulai bercerita beberapa penggalan hidup hariannya di kamp pengungsi Dit Balut. Dia mengatakan, “Saya memasak di ‘Babur Alkaz’ atau di atas perapian kayu. Saya masukkan di dalamnya pakaian-pakaian usang dan potongan-potongan plastik, atau kalau ada memakai kayu atau arang yang dibagikan kepada kami.”

Dia melanjutkan, "Kami di sini tidak mengenal yang namanya pakaian diseterika. Jadi saya meletakkan celana suami saya di bawah kasur untuk mengurangi keriputnya sedikit." Dia menyatakan bahwa mandi adalah hal yang paling sulit yang bisa dibayangkan di kamp pengungsi Dir Balut di tengah-tengah musim dingin ini. Lebih lanut dia mengatakan, “Anda bayangkan kondisi anak-anak Anda yang menggigil kedinginan, sementara mereka menyuruhmu untuk menuangkan air panas tanpa henti. "

Dia menambahkan, "Saya tidak membesar-besarkan atau berlebihan jika saya memberi tahu Anda bahwa ada seseorang yang tidak mandi dalam sebulan kecuali hanya sekali atau dua kali karena begitu dinginnya."


Mengenai waktu luang, Umm Imad mengatakan, "Kami jarang memilikinya. Jika itu terjadi, maka para wanita berkumpul di tenda salah satu dari mereka atau di depannya, jika cuaca cerah, dan kami mengingat semua kenangan indah yang dibakar perang.” Dia menambahkan, "Maka salah satu dari mereka akan membanggakan: saya memiliki mesin cuci, microwave, AC, TV, dll. sementara gadis-gadis kecil mendengarkan dengan takjub! Tapi itu hanya kenangan indah yang sudah dibakar perang."

Dalam wawancara dengan Quds Press, aktivis Palestina Ibrahim Shihabi mengatakan, "Orang-orang telah tinggal di kamp ini tanpa listrik sejak perpindahan mereka pada pertengahan tahun 2018. Sementara beberapa keluarga telah membeli panel surya untuk mengisi baterai, ponsel dan pengisi daya, serta "lampu suar" yang dinyalakan dengan baterai.

Dia melanjutkan, "Pemadaman listrik telah menghilangkan bayang-bayang kehidupan orang-orang di kamp ini. Begitu matahari terbenam, maka Anda tidak akan menemukan seorang pun di jalan."

Dia bercerita tentang penderitaan para siswa saat mengerjakan tugas mereka mengingat lemahnya pencahayaan lampu dat atau lampu gas dan mungkin lilin. Dia menyatakan bahwa orang-orang bergantung pada internet untuk mengikuti berita dan seseorang akan terputus dari dunia begitu baterai ponsel kosong dari pengisian daya.

Shihabi mengatakan, “Kami mengajukan proposal untuk memasang generator listrik di kamp. Akan tetapi kami dikejutkan oleh ketidakmampuan orang untuk membayar tagihan. Satu ampere sekarang berharga 5.000 pound, dengan waktu operasi hanya 3 jam saja karena tingginya harga minyak diesel tiga kali lebih tinggi.”

Shihabi menekankan bahwa para pengungsi Palestina di kamp pengungsi Dir Balut hidup dalam kondisi kemanusiaan yang sulit, mengingat tingginya harga akibat jatuhnya pound Suriah.

Kamp Dir Balut dihuni oleh sekitar 300 keluarga Palestina. Kebanyakan mereka adalah pengungsi dari kamp pengungsi Yarmuk dan daerah selatan ibukota Damaskus. (was/pip)

  
Sumber:  https://melayu.palinfo.com/14231