Bahasa Melayu Diusul Jadi Bahasa ASEAN, Bagaimana Potensi Bahasa Indonesia?

Diterbitkan oleh Ipan pada Jumat, 25 Maret 2022 09:41 WIB dengan kategori Internasional dan sudah 580 kali ditampilkan

JAKARTA - Malaysia mengusulkan bahasa Melayu sebagai bahasa kedua ASEAN setelah bahasa Inggris. Perdana Menteri Malaysia Ismail Sabri Yaakob beralasan, bahasa Melayu dituturkan banyak penduduk ASEAN, termasuk Indonesia.

"Indonesia, Brunei, Singapura, Thailand selatan, Filipina selatan, serta sebagian dari Kamboja turut menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar. Jadi tidak ada alasan, kami tidak bisa menjadikan bahasa Melayu sebagai salah satu bahasa resmi ASEAN," kata Ismail Sabri Yaakob dalam akun Facebook-nya, Rabu (23/3/2022).

"Malaysia akan mengadakan perbincangan dengan pemimpin ASEAN untuk mencadangkan penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa kedua ASEAN dalam usaha memartabatkan bahasa ibunda ke peringkat antarbangsa," imbuhnya.

Sementara menurut Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek Prof. Endang Aminudin Aziz, M.A., Ph.D., potensi bahasa Indonesia jadi bahasa kedua ASEAN juga tidak kecil.

Aminudin mengatakan, penggunaan bahasa Indonesia-Melayu di sisi lain sudah disepakati di sidang parlemen ASEAN.

"Sebelumnya di sidang parlemen ASEAN, sudah disepakati pengunaan bahasa Indonesia-Melayu karena Indonesia tidak mau menggunakan istilah bahasa Melayu dan Malaysia tidak mau menggunakan istilah bahasa Indonesia. Jadi disebutlah bahasa Indonesia-Melayu sebagai bahasa pengantar kedua sidang ASEAN," kata Aminudin pada detikEdu, Kamis (24/3/2022).

"Ini artinya, bahasa itu akan digunakan di persidangan dan akan ada kewajiban bagi penyelenggaraan sidang untuk menyediakan penerjemah, tentu saja," imbuhnya.

Potensi Bahasa Indonesia Jadi Bahasa Kedua ASEAN

1. Lebih mudah dipelajari daripada bahasa Melayu

Menurut Aminudin, bahasa Indonesia jauh lebih mudah dipelajari daripada bahasa Melayu. Sebab, kata yang dibaca sama dengan yang ditulis.

"Dan kita menyerap istilah asing melalui tulisan, bukan ucapan. Contoh, kita punya istilah bahasa Inggris diserap bahasa mereka jadi bus, jadi (dibaca) bas. Di kita (bahasa Indonesia) diserap jadi bis, bacanya bis," jelas Aminudin.

2. Durasi belajar relatif cepat

Aminudin mengatakan, berdasarkan data hasil pembelajaran daring sepanjang masa pandemi Covid-19, peserta pembelajaran bahasa Indonesia belajar seminggu sekali dengan durasi 2 jam per pertemuan.

" Tempo 10 kali pertemuan, di akhir pertemuan itu sudah bisa bercakap, kasih pidato singkat sederhana, perkenalan dalam bahasa indonesia. Nah 10 minggu itu kan 2,5 bulan, kalau dihutung jamnya berarti hanya 20 jam," rincinya.

"Kalau yang (pelajarannya) lebih meningkat, rata-rata di kisaran 3 bulan, kalau mau lebih intensif, melalui tatap muka. Tapi dari data selama ini, dari penutupan dan kedutaan, setelah 10 pertemuan, setiap peserta kita minta pidato sederhana memperkenalkan diri, nama, hobi, dan lainnya dengan teks sendiri. Jadi lebih cepat mereka belajar," imbuh Aminudin.***(Detik.com)

 

(twu/pal)

 

Sumber