Buku ‘Menyalakan Obor Sejarah Bawaslu Kendal’ Diluncurkan

Diterbitkan oleh Suroto pada Kamis, 4 Agustus 2022 14:36 WIB dengan kategori Headline Jawa Tengah dan sudah 44 kali ditampilkan

KENDAL - JATENG

Bawaslu – Kiprah lembaga pengawas pemilu dalam menjaga demokrasi di Kabupaten Kendal merupakan fakta sejarah yang patut diabadikan. Di antara cara mengabadikan peristiwa historis ini melalui buku. Pada Rabu (3 Agustus 2022) malam dilaksanakan Peluncuran dan Bedah Buku ‘Menyalakan Obor Sejarah Bawaslu Kendal (Napak Tilas Pengawas Pemilu 2004-2023)’ oleh Bawaslu Kabupaten Kendal di Jl. Kyai Gembyang No. 23 Ngilir Kendal.

Buku terbitan Bawaslu Kendal Jateng setebal XIV+258 halaman yang telah mendapat ISBN dari Perpustakaan Nasional ini mengulas sejarah pengawas pemilu sejak Pemilu 2004. “Buku ini sebagai wujud napak tilas pengawas pemilu sejak 2004 sampai 2023,” kata Ketua Bawaslu Kendal Odilia Amy Wardayani saat peluncuran buku.

Sambung Odilia, hal tersulit penyusunan buku ini diserahkan kepadanya dalam penulisan. “Saya diberi tugas paling sulit oleh Mas Editor untuk menulis Panwas 2004 dan 2005. Sumber dokumen sangat minim. Ada pun sumber wawancara, ketika ditanya momentum apa yang diawasi, jawabnya sudah lupa,” lanjutnya sambil disambut tawa hadirin.

Editor Buku, Arief Musthofifin, pada paparannya menyampaikan cuplikan isi keseluruhan buku. “Sejak sembilan belas tahun lalu, terhitung sudah sepuluh kali pengawas tingkat Kabupaten Kendal dibentuk. Sembilan kali dibubarkan karena bersifat sementara (ad hoc), satu kali bersifat permanen yaitu Bawaslu Kendal 2018-2023,” katanya.

Ada pun Judul menyalakan obor mengandung suatu filosofi. “Sejarah adalah obor. Jangan sampai kita ‘kepaten obor’ atau kehilangan sejarah,” terang Arief. “Kini obor sejarah Bawaslu Kendal sudah dinyalakan. Harapan kami, terangnya terus memancar dan bisa dilanjutkan di masa mendatang,” imbuhnya.

Bedah buku berlangsung santai dan gayeng hingga jelang tengah malam. Para tokoh dunia pengawasan pemilu tampil di depan. Yaitu Slamet Mulyono (Akademisi dan Anggota Panwas Kabupaten Kendal 2004), Supriyadi (Praktisi Hukum dan Ketua Panwas Kabupaten Kendal 2009, 2010, 2013, 2014, dan 2015) sebagai pembedah, dan Keynote Speak dari Muhammad Rofiuddin (Anggota Bawaslu Jateng/ Kordiv Humas).

Rofiuddin, yang juga penanggung jawab program buku di Bawaslu Jateng mengisahkan bahwa pembuatan buku sejarah pengawas pemilu secara internal lembaga Bawaslu hanya dilakukan di 35 Bawaslu Kabupaten/Kota se-Jateng. “Waktu menyelesaikan buku ini cukup singkat, sekitar lima bulan terhitung sejak Januari saat rapat koordinasi pertama untuk pemberian tugas, dengan total delapan kali koordinasi dan semua dilakukan via daring,” katanya.

Rofiuddin menyadari bahwa buku yang dibuat Bawaslu Kendal bukan karya sempurna atau baru mengulas permukaan sejarah. Masih perlu upaya penulisan lagi agar lebih utuh. “Buku sejarah pengawas pemilu ini akan lebih sempurna jika ditulis oleh bapak ibu sebagai pelaku sejarah pengawasan karena lebih tahu persis peristiwanya,” imbuhnya.

Riuh rendah canda tawa turut menghiasi bedah buku. Apalagi dihadari pelaku sejarah atau para pengawas pemilu di Kabupaten Kendal sejak masa 2004, stakeholder, insan pers, Gerakan Rakyat Mengawasi (Garasi) dan alumni Sekolah Kader Pengawas Partisipatif (SKPP) Bawaslu RI dari Kabupaten Kendal.

SWI Jateng