Pengasuh Pesantren Al-Badriyyah Mranggen Pimpin Takhtimul Qur’an dalam Haul Simbah H. Muhsin

Diterbitkan oleh Suroto pada Kamis, 1 September 2022 12:22 WIB dengan kategori Daerah Jawa Tengah dan sudah 261 kali ditampilkan

GROBOGAN - JATENG

Orang tua merupakan sosok yang wajib dihormati, karena ridha Allah SWT tergantung ridha orang tua. Oleh sebab itu, sebagai seorang anak, sudah sepatutnya menghormati dan menyayangi orang tua sebagaimana sudah diajarkan dalam Islam. 
Kewajiban seorang anak untuk menghormati dan menyayangi orang tua tidak hanya semasa hidupnya. Bahkan ketika orang tua sudah tiada, ada kewajiban bagi anak terhadap orang tuanya.


Setidaknya ada empat hal kewajiban anak terhadap orang tua yang sudah meninggal, sebagaimana Hadits Rasulullah Muhammad SAW dalam Musnad Ahmad, yakni mendoakan orang tua, memohonkan ampunan untuk keduanya, menunaikan janji mereka dan memuliakan teman mereka, serta menjalin silaturahim dengan orang-orang yang dulu menjadi sahabat orang tua.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh KH Zainal Arifin (Pahesan) saat memberikan tausiyah haul Simbah H. Muhsin ke 19 di Ds. Latak Rapah  Godong Grobogan, pada Selasa (30/8/22).


Simbah H. Muhsin adalah ayahanda Nyai Hj Mu’minah (salah satu garwo Syeikh Muslih Abdurrahman Mranggen) dan KH Muhibbin Muhsin Alhafidz (Pengasuh Pondok Pesantren Al-Badriyyah Suburan Mranggen). 
“Pelajaran yang bisa dipetik dari hadits di atas dan hal ini banyak dilupakan oleh generasi saat ini adalah memuliakan teman-temannya orang tua dan menyambung persaudaraan. Hal tersebut sangat penting supaya orang-orang di sekeliling mereka akan selalu terjaga hubungannya. Istilah lain dalam bahasa Jawa, supaya tidak kepaten obor," jelasnya.


Disampaikan, dengan demikian berbakti kepada kedua orang tua tidak berhenti saat mereka masih hidup, namun sampai mereka meninggal pun, anak tetap harus berbakti kepada mereka dengan cara-cara yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW.
Dalam kesempatan itu pula Kiai Arifin mengajak umat meneladani sosok Mbah H. Muhsin sebagai panutan masyarakat.
“Salah satunya, keistiqomahan dalam berjamaah shalat. Mbah H. Muhsin dulu saat di Mranggen selalu menunggu jamaah shalat dengan Syeikh Muslih sampai terkantuk-kantuk. Ini saya lihat sendiri lho,” paparnya.


Kepada masyarakat yang hadir Kiai Arifin menyampaikan ciri dan karakteristik penghuni surga, sebagaimana keterangan dalam kitab Durratun Nasihin. Pertama, wajhun malihun, selalu menampilkan wajah yang ceria, gembira dan optimis (positif thinking). Kedua, lisanun fashihun, selalu bicaranya hal-hal yang baik dan bermanfaat. Pembicaraannya selalu menyejukkan. Ketiga, qalbun naqiyyun, berhati bersih. Tidak iri dan dengki. Mampu mengendalikan diri  dari amarah, emosi dan ego. 
“Terakhir, yadun sakhiyyun, memiliki karakteristik yang dermawan. Mau berbagi ilmu, pemikiran, harta, dan tenaga,” imbuhnya.


Sementara, ketua panitia Kiai Zaenal Muttaqin menyatakan peringatan haul memiliki makna penting. Selain mendoakan almarhum, peringatan haul akan memberi kemanfaatan dan keberkahan bagi orang yang memperingatinya. 
“Kita berziarah ke makbarah Mbah Muhsin ini juga niat mengharap keberkahan dari Allah SWT dengan harapan diberi kemudahan rizki, umur panjang, bisa syukur nikmat dan husnul khotimah, ”ungkapnya.


Peringatan haul ke 19 Simbah H. Muhsin ini  dihadiri ratusan keluarga besar dan warga masyarakat, diawali acara tahtimul Qur’an, kemudian dilanjutkan pembacaan tahlil dipimpin oleh KH Muhibbin Muhsin Alhafidz. Acara diakhiri dengan diakhiri dengan doa.

(Suroto Anto Saputro)