Ternyata Sesuatu, Netizen Teriak Faskes dengan Clinik Cerebellum Terputus, BPJS Bilang Begini

Diterbitkan oleh Admin pada Senin, 26 Desember 2022 16:37 WIB dengan kategori Headline Makassar dan sudah 2.827 kali ditampilkan

MAKASSAR, -- Jeritan pasien clinik cerebellum yang sudah terlanjur sayang dengan pelayanan digaungkan netizen melalui media sosial tentang pemutusan kerjasama faskes dengan BPJS kesehatan kini terjawab.

Kepada terkininews.com Senin (26/12/2022) kepala Bpjs Kesehatan cabang Makassar memberikan hak jawab guna menindaklanjuti pemberitaan dengan judul "Kado Akhir Tahun Pasien Klinik Cerebellum, Benarkah Faskes BPJS Diputus 2023". Klik Untuk Baca!!!

Menurut Greisthy E. L. Borotoding menjelaskan bahwa BPJS Kesehatan yang merupakan Badan Hukum Publik selalu menjunjung tinggi prinsip transparansi dan akuntabel terhadap implementasi Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Lanjut kata dia bahwa berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2018 pasal 67 menyebutkan bahwa Fasilitas Kesehatan milik pemerintah yang memenuhi persyaratan wajib bekerjasama dengan BPJS Kesehatan. Fasilitas Kesehatan milik swasta yang memenuhi persyaratan dapat menjalin kerja sama dengan BPJS Kesehatan.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 71 Tahun 2013 menyebutkan bahwa :Perjanjian kerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berlaku sekurang kurangnya 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang kembali atas kesepakatan bersama.

BPJS Kesehatan dalam melakukan kerja sama dengan Fasilitas Kesehatan juga harus mempertimbangkan kecukupan antara jumlah Fasilitas Kesehatan dengan jumlah Peserta yang harus dilayani.

Perjanjian Kerjasama (PKS) antara Klinik Cerebellum dan BPJS Kesehatan menyebutkan bahwa Perjanjian berlaku untuk 1 (satu) tahun dan secara efektif berlaku terhitung sejak tanggal 1 Januari 2022 dan berakhir pada tanggal 31 Desember 2022. Ujar Kepala BPJS Kesehatan Cabang Makassar

BPJS Kesehatan berprinsip pada peningkatan mutu dan pembiayaan efektif dalam pelaksanaannya dimana hal ini bertujuan untuk menjamin agar pelayanan kesehatan kepada peserta sesuai dengan mutu yang ditetapkan dan diselenggarakan secara efektif dengan tujuan agar dana amanah yang diberikan kepada BPJS Kesehatan dari masyarakat dikelola dengan baik dan tepat sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Terangnya

"Dalam melakukan evaluasi selama periode perjanjian kerjasama BPJS Kesehatan memiliki indikator yang lengkap dan komperhensif, tidak melihat dari satu aspek saja namun ada beberapa indikator mutu dan komitmen pelayanan yang tertuang dalam hak dan kewajiban. Sehingga indikator kepatuhan terhadap kontrak Klinik Cerebellum yang diklaim memiliki hasil yang baik, tidak menjadi satu-satunya indikator untuk menilai suatu Faskes akan dilanjutkan kerja sama atau tidak. Hal ini juga bertujuan untuk memastikan pasien mendapatkan pelayanan yang berkualitas secara komperhensif sesuai hak peserta dan standar mutu layanan dengan pembiayaan yang dapat dipertanggungjawabkan". Jelasnya

Lanjut dalam hal tidak dilanjutkannya perjanjian kerja sama dengan klinik Cerebellum dikarenakan masih terdapatnya kewajiban yang belum diselesaikan sebagai mitra yang baik selama perjanjian kerja sama penyelenggaraan program JKN.

"BPJS Kesehatan berkewajiban memastikan seluruh proses penyelenggaraan program JKN terlaksana secara akuntabel, transparan dan profesional. BPJS Kesehatan memiliki tanggungjawab untuk memastikan pengalihan peserta dan memastikan bertanggungjawab menyelesaikan penagihan klaim yang tersisa untuk diproses dan dibayarkan sesuai ketentuan". Tegas Greisthy E. L. Borotoding selaku Kepala BPJS Kesehatan Cabang Makassar,

Dikatakan bahwa pasien yang mendapatkan rawat inap dapat tetap melanjutkan perawatan meski melewati 31 Desember 2022 karena masuk kedalam pelayanan bulan Desember 2022 sehingga tidak perlu dirujuk ke Faskes lain.

Sementara terkait Analisa kebutuhan mengenai distribusi peserta dari klinik Cerebellum masih mencukupi untuk dapat dialihkan dan ditangani oleh 15 Faskes lain yang memilki pelayanan yang sama seperti spesialisasi KFR, fisioterapi, terapi wicara dan terapi okupasi. (***)