Polemik Gagal Debat Pilkada Batam, Mahasiswa Batam Beri Kuliah Gratis Untuk Anggota DPRD Kepri Tumpal Pasaribu
BATAM - Penggunaan ponsel oleh salah satu pasangan calon (paslon) dalam debat Pilkada Kota Batam yang digelar pada 1 November 2024 menjadi sorotan mahasiswa. Aksi tersebut dinilai tidak etis dan memicu kritik tajam dari kalangan mahasiswa yang aktif memantau dinamika politik di kota ini.
Dalam opini yang ditulis oleh Jamaluddin Lobang, seorang mahasiswa di Batam, penggunaan ponsel saat debat dianggap sebagai bentuk ketergantungan pada alat bantu yang dapat mengandalkan pemikiran pihak lain. Jamaluddin mengungkapkan bahwa tindakan tersebut berpotensi menurunkan kredibilitas paslon di mata publik.
“Penggunaan ponsel dalam debat seolah menunjukkan bahwa jawaban dan argumen yang disampaikan bukan sepenuhnya berasal dari pemikiran paslon itu sendiri,” tulis Jamaluddin dalam opininya.
Jamaluddin juga menilai bahwa kritik mahasiswa terhadap penggunaan ponsel tersebut merupakan bentuk kontrol sosial yang seharusnya tidak dibatasi. Ia menanggapi pernyataan Anggota Komisi I DPRD Kepri, Tumpal Ari M. Pasaribu, yang mengimbau mahasiswa untuk tidak terlibat dalam kepentingan politik sesaat.
Menurut Jamaluddin, pernyataan tersebut mencerminkan pemahaman yang dangkal tentang politik. Ia berpendapat bahwa segala tindakan, termasuk kritik mahasiswa, memiliki unsur politik, tetapi tidak berarti mereka terlibat dalam kepentingan politis tertentu.
“Politik adalah seni mempertahankan kekuasaan dan memperjuangkan kepentingan. Bahkan tindakan sehari-hari, seperti membeli makanan, dapat memiliki unsur politik,” ujarnya dalam opininya.
Jamaluddin menekankan bahwa mahasiswa memiliki peran sebagai agen perubahan dan kontrol sosial. Menurutnya, kritik terhadap paslon merupakan bagian dari tanggung jawab mahasiswa untuk memastikan proses demokrasi berjalan dengan baik dan tidak melenceng dari etika maupun norma.
Opini ini mencerminkan pandangan mahasiswa yang tetap kritis terhadap dinamika Pilkada Kota Batam. Meski mendapat respons beragam, mahasiswa berkomitmen untuk terus mengawal proses politik yang berlangsung, demi terciptanya demokrasi yang sehat dan transparan.

