Presiden Trump Tantang BRICS: Tolak Dolar, Kena Tarif

Diterbitkan oleh Redaksi pada Selasa, 8 Juli 2025 06:35 WIB dengan kategori Bisnis Headline Internasional dan sudah 488 kali ditampilkan

INTERNASIONAL - TERKININEWS.COM - Ketegangan geopolitik dan ekonomi internasional kembali meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan ancaman terbaru terhadap negara-negara yang mendukung BRICS. Dalam pernyataannya yang disampaikan bertepatan dengan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS di Rio de Janeiro, Brasil, Trump menegaskan akan mengenakan tarif tambahan sebesar 10% terhadap negara manapun yang dinilai memihak kebijakan "anti-Amerika" yang diasosiasikan dengan BRICS.

Ancaman ini disampaikan Trump melalui akun Truth Social pada Senin (7/7/2025), sebagaimana dilaporkan oleh Anadolu Agency. Ia menambahkan bahwa tidak akan ada pengecualian atas kebijakan tersebut, menunjukkan komitmen serius untuk menjadikan tarif sebagai alat tekanan dalam politik luar negeri dan perdagangan global.

Trump bahkan menyatakan bahwa notifikasi resmi tarif dan perjanjian dagang akan dikirim ke berbagai negara mulai Senin siang waktu Washington, atau sekitar pukul 23.00 WIB. Langkah ini dianggap sebagai upaya Washington untuk kembali menggunakan kebijakan proteksionisme secara agresif.

Kekhawatiran Trump terhadap BRICS bukanlah hal baru. Sejak awal tahun, ia sudah menolak kemungkinan penggantian dolar AS dalam perdagangan global. Ia juga menuntut negara-negara BRICS agar tidak menciptakan mata uang tandingan atau mendukung alat tukar lain yang bisa menggantikan posisi dolar. Trump bahkan menyatakan, "jika mereka tetap melakukannya, tarif 100% akan diberlakukan."

Ancaman ini dianggap sebagai bentuk resistensi kuat terhadap gerakan de-dolarisasi yang semakin menguat, terutama pasca-sanksi ekonomi AS terhadap Rusia pada 2022 akibat perang di Ukraina. Upaya BRICS untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dianggap sebagai ancaman terhadap dominasi keuangan global Amerika Serikat.

Di sisi lain, tekanan dari Washington ini bisa menjadi katalis bagi negara-negara BRICS untuk memperkuat kerjasama finansial mereka, serta mempercepat penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan lintas negara.

Kini perhatian dunia tertuju pada respons BRICS. Apakah mereka akan melunak di bawah tekanan tarif AS, atau justru mempercepat reformasi sistem keuangan global sebagai bentuk perlawanan terhadap dominasi Barat?

Langkah Trump ini diprediksi akan menjadi babak baru dalam perang dagang dan perebutan pengaruh ekonomi global, dan akan diawasi ketat oleh pelaku pasar serta para pengambil kebijakan di seluruh dunia.