Stabilitas Sistem Keuangan Tetap Terjaga, KSSK Perkuat Sinergi Hadapi Risiko Global

Diterbitkan oleh Redaksi pada Senin, 28 Juli 2025 20:01 WIB dengan kategori Bisnis Internasional Jakarta dan sudah 419 kali ditampilkan

JAKARTA - TERKININEWS.COM -Stabilitas sistem keuangan Indonesia tetap kuat dan terjaga di tengah gejolak global yang dipicu oleh ketegangan geopolitik dan kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS). Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), yang beranggotakan Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia (BI), Ketua Dewan Komisioner OJK, dan Ketua Dewan Komisioner LPS, menyampaikan hasil Rapat Berkala KSSK III yang dilaksanakan pada 25 Juli 2025 di Jakarta. Rapat ini menghasilkan sejumlah kesepakatan strategis untuk memperkuat sinergi kebijakan lintas lembaga dalam menjaga stabilitas serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Kondisi ekonomi global pada triwulan II 2025 masih dibayangi ketidakpastian akibat dinamika tarif resiprokal AS dan ketegangan geopolitik, terutama di Timur Tengah. Hal ini menyebabkan perlambatan ekonomi di negara maju dan berkembang. Meski begitu, Indonesia menunjukkan ketahanan ekonomi yang solid. KSSK optimistis ekonomi Indonesia akan tetap tumbuh sekitar 5,0% sepanjang 2025, dengan didukung konsumsi rumah tangga yang terjaga, surplus neraca perdagangan, dan realisasi stimulus fiskal.

Kebijakan fiskal melalui APBN 2025 terus difokuskan sebagai alat countercyclical. Hingga semester I 2025, belanja negara telah mencapai Rp1.406 triliun atau 38,8% dari pagu APBN. Pemerintah menggelontorkan paket stimulus sebesar Rp24,4 triliun di triwulan II, mencakup bantuan sosial, subsidi upah, diskon transportasi, dan dukungan kepada industri padat karya. Program-program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), pembangunan sekolah rakyat, dan bantuan untuk pupuk serta energi bersubsidi menjadi tulang punggung penguatan daya beli masyarakat.

Dari sisi moneter, BI menurunkan suku bunga acuan dua kali sepanjang 2025, dari 5,75% menjadi 5,25% pada Juli, guna mendukung pertumbuhan di tengah inflasi yang rendah dan terkendali. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat hanya 1,87% yoy pada Juni 2025. Nilai tukar Rupiah juga menunjukkan tren penguatan signifikan terhadap dolar AS, ditutup di level Rp16.235 pada akhir Juni dari Rp16.865 di April 2025.

Kinerja pasar keuangan nasional juga membaik. Yield SUN tenor 10 tahun turun menjadi 6,51%, sementara arus modal asing mencatat net buy sebesar Rp58,29 triliun hingga Juli. Di pasar saham, IHSG kembali menguat dan ditutup di level 7.543,50 per 25 Juli 2025. Bursa Karbon menunjukkan pertumbuhan partisipasi dan nilai transaksi, dengan total volume perdagangan mencapai 1,59 juta tCO2e senilai Rp77,95 miliar.

Kinerja sektor jasa keuangan pun tetap solid. Kredit perbankan tumbuh 7,77% yoy, didukung pertumbuhan kredit investasi dan konsumsi. Rasio non-performing loan (NPL) tetap terkendali di 2,22%. Di sisi lain, permodalan perbankan tetap kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 25,79%.

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) terus menjaga kepercayaan publik dengan menjamin 99,94% rekening simpanan di bank umum dan 99,97% rekening di BPR/BPRS. LPS juga menurunkan tingkat bunga penjaminan untuk simpanan Rupiah dan memperkuat koordinasi kebijakan bersama otoritas moneter dan fiskal.

Salah satu capaian penting adalah keberhasilan negosiasi penurunan tarif ekspor produk Indonesia ke AS dari 32% menjadi 19%, yang diharapkan mendorong industri padat karya seperti tekstil, alas kaki, dan furnitur. Kebijakan ini diproyeksikan mampu menciptakan multiplier effect bagi industri nasional dan membuka lebih banyak lapangan kerja.

Sebagai penutup, KSSK menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan sinergi kebijakan, mengantisipasi risiko rambatan dari ketidakpastian global, serta mendukung transformasi ekonomi nasional melalui program Asta Cita Pemerintah. Rapat berkala berikutnya dijadwalkan akan dilaksanakan pada Oktober 2025.