Chromebook Rp9,9 Triliun dan Negara yang Gagal “Menginstal” Keadilan

Diterbitkan oleh Redaksi pada Rabu, 6 Agustus 2025 10:30 WIB dengan kategori Editorial Headline dan sudah 352 kali ditampilkan

Oleh: Redaksi TerkiniNews

Mari kita bicara soal prestasi besar bangsa: pengadaan Chromebook Rp9,9 triliun yang hingga kini lebih dikenal karena “mahalnya” daripada “manfaatnya.” Laptop-laptop itu memang dikirim ke sekolah-sekolah, tapi ke mana perginya kejelasan hukum atas dugaan penyimpangan dana sebesar itu?

Sudah dua tahun berlalu. Penyelidikan katanya berjalan. Tapi seperti biasa, berjalan lambat, mungkin karena menggunakan koneksi Wi-Fi sekolah yang sama dengan Chromebook-nya. Jika rakyat disuruh sabar, kami sudah. Tapi keadilan tak bisa terus-terusan buffering.

Entah kenapa, kasus ini seperti masuk folder bernama "Pending Selamanya". Padahal, kita sedang bicara soal anggaran hampir sepuluh triliun rupiah, bukan uang jajan anak kos. Namun seperti proyek-proyek besar lainnya, ketika tanda tangan selesai dan anggaran cair, sisanya hanyalah urusan nasib. Urusan siapa yang bertanggung jawab? Ah, itu urusan nanti, atau urusan Tuhan.

Lucunya, para pejabat yang dulu semangat menyuarakan “digitalisasi pendidikan” kini lebih senyap daripada sinyal di daerah terpencil. Bahkan, pihak penegak hukum pun tampaknya lebih sibuk mengurus kasus viral selebriti daripada dugaan korupsi anggaran negara.

Dan beginilah kita, hidup dalam negara di mana pengadaan teknologi canggih tidak dibarengi dengan akal sehat, dan proyek besar tidak pernah punya penutup yang jelas. Mungkin, keadilan memang tidak bisa di-download—apalagi jika pengawasannya tidak pernah di-update.

Kalau anak-anak sekolah sekarang belajar dengan Chromebook, barangkali para pejabat kita belajar dengan buku lama berjudul: "Cara Aman Main Proyek Tanpa Tersentuh Hukum.”

Ironisnya, rakyat sudah terbiasa. Karena dalam banyak kasus, kita memang hanya diminta percaya, tanpa pernah benar-benar diberi tahu.