SDN 12 Teluk Pakedai Terancam Abrasi, Warga Usulkan Penataan Kawasan Jadi Sekolah Pesisir Eduwisata

Diterbitkan oleh Redaksi pada Sabtu, 25 Oktober 2025 18:54 WIB dengan kategori Daerah Kuburaya dan sudah 274 kali ditampilkan

KUBURAYA - TERKININEWS.COM - Gelombang laut yang terus mengikis garis pantai di Desa Kuala Karang, Kecamatan Teluk Pakedai, mengancam keberadaan Sekolah Dasar Negeri (SDN) 12 Teluk Pakedai. Sekolah yang berdiri di tepi pesisir Laut Natuna bagian selatan ini terancam hilang akibat abrasi yang semakin parah. Meski demikian, warga bersama pihak sekolah justru melihat peluang untuk menjadikan kawasan tersebut sebagai zona pendidikan berbasis lingkungan dan wisata edukatif pesisir.

SDN 12 Teluk Pakedai selama ini menjadi tempat belajar bagi lebih dari 80 siswa dari keluarga nelayan setempat. Berdiri di atas lahan seluas sekitar 7.500 meter persegi, sekolah ini telah lama menjadi pusat kegiatan pendidikan di wilayah pesisir Kuala Karang. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, abrasi pantai kian mendekati area sekolah. Beberapa bagian halaman sudah hilang tersapu ombak, bahkan jarak antara ruang kelas dan garis air kini hanya tersisa belasan meter saat pasang tinggi. Kondisi ini membuat kegiatan belajar mengajar sering terganggu, terutama pada musim angin barat.

Kepala Sekolah SDN 12 Teluk Pakedai menyampaikan harapannya agar pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk melindungi sekolah dari ancaman abrasi.

“Kami berharap pemerintah kabupaten maupun provinsi dapat menindaklanjuti pembangunan tanggul penahan ombak dan sabuk pantai hijau agar sekolah ini tidak ditelan laut,” ujarnya.

Selain perlindungan fisik, pihak sekolah juga mengusulkan agar kawasan tersebut dijadikan pusat pembelajaran lingkungan hidup pesisir. Melalui konsep itu, siswa diharapkan tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga mengenal langsung ekosistem laut, mangrove, serta pentingnya menjaga kelestarian alam.

Kekhawatiran serupa disampaikan oleh para orang tua murid.

“Setiap kali ombak besar datang, kami cemas anak-anak tak bisa sekolah. Tapi kami yakin, kalau kawasan ini ditata dengan baik, bisa jadi tempat yang indah dan aman,” tutur salah satu wali murid.

Warga pun mendukung gagasan menjadikan sekolah sebagai zona wisata edukatif, misalnya melalui kegiatan penanaman mangrove bersama siswa dan pembangunan taman pantai ramah anak.

Tokoh masyarakat setempat yang juga nelayan senior menilai penanganan abrasi perlu dilakukan secara terpadu.

“Kalau hanya membangun tanggul tanpa menanam mangrove dan menata kawasan, abrasi akan terus bergeser. Kami ingin tempat ini jadi contoh bahwa sekolah bisa menjadi pusat wisata edukasi pesisir yang juga menghidupkan ekonomi warga,” ujarnya.

Ia berharap Dinas PUPR, Dinas Pendidikan, dan Dinas Pariwisata Kabupaten Kubu Raya dapat bersinergi membangun kawasan tersebut dengan pendekatan Sekolah Hijau Pesisir Berkelanjutan, yang memadukan aspek perlindungan pantai, pendidikan lingkungan, dan potensi wisata lokal.

Sebagai langkah awal, warga dan pihak sekolah kini bergotong royong menanam mangrove di sekitar area pantai. Mereka optimistis, jika penataan kawasan ini mendapat dukungan dari pemerintah dan pihak swasta, SDN 12 Teluk Pakedai tidak hanya akan selamat dari abrasi, tetapi juga dapat menjadi ikon wisata edukatif baru di pesisir Kalimantan Barat — tempat belajar yang indah, aman, dan sarat nilai lingkungan.

Pewarta: HR | Editor: Redaksi Terkininews.com