Kawasan Elit FKS Tallasa City Makassar Hasilkan Hampir 1 Ton Sampah Setiap Hari Tanpa Pengolahan
MAKASSAR TERKININEWS.COM - Di balik kemegahan dan citra modernnya sebagai “kota mandiri terbesar di Indonesia Timur”, kawasan Tallasa City milik FKS Land ternyata menyimpan persoalan serius.
Penelusuran redaksi menemukan bahwa kawasan pergudangan dan perumahan elit ini menghasilkan hampir 1 ton sampah dan limbah industri setiap hari, tanpa sistem pengelolaan yang sesuai dengan standar lingkungan hidup.
Sumber dari internal kawasan menyebutkan, hingga saat ini FKS Land belum memiliki fasilitas pengolahan limbah (IPAL) maupun Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPS 3R) yang diatur dalam perizinan pembangunan kota mandiri.
“Sampah dari gudang dan rumah tangga diangkut dan dibuang ke lahan kosong belakang kawasan, sebagian lagi dibakar pada malam hari. Tidak ada sistem pemilahan atau daur ulang,” ungkap seorang pekerja kebersihan yang enggan disebutkan namanya, Sabtu (2/11/2025).
♻️ Setiap Hari, 1 Ton Limbah Tanpa Arah
Kawasan Tallasa City memiliki sekitar 500 unit gudang aktif dan tiga klaster perumahan besar — Alamanda, Akasia, dan Utopia — dengan total sekitar 4.000 kepala keluarga (KK).
Jika setiap rumah tangga menghasilkan rata-rata 0,2 kg sampah per hari, maka volume total dari sektor hunian saja mencapai 800 kg per hari, belum termasuk limbah dari aktivitas pergudangan.
“Kalau ditotal dengan limbah industri ringan dari aktivitas gudang, angkanya bisa mendekati satu ton per hari. Dan semua itu tidak masuk dalam sistem pengelolaan resmi,” ungkap Ahmad Yusran, Ketua Forum Komunitas Hijau (FKH) Makassar.
Menurut Yusran, situasi ini sudah berlangsung lebih dari lima tahun tanpa ada tindakan korektif dari pihak pengembang maupun Dinas Lingkungan Hidup.
“Ini sangat berbahaya. Endapan limbah padat dan abu hasil pembakaran bisa mencemari tanah dan air bawah permukaan. Apalagi kawasan itu dekat dengan permukiman padat dan jalur drainase utama Tamalanrea,” ujarnya.
🌧️ Banjir dan Polusi Jadi Dampak Nyata
Akumulasi limbah di area belakang pergudangan disebut telah memperparah kerusakan drainase di wilayah sekitar. Setiap kali hujan deras, air tidak mengalir sempurna dan menyebabkan banjir di perumahan BTN Hamsi, BTN Antara, hingga Sudiang.
“Sampah dari kawasan FKS menyumbat saluran air yang menuju jalan utama. Akibatnya, genangan meluas ke kawasan pemukiman warga,” ujar Ahmad.
Selain banjir, warga di sekitar kawasan juga mengeluhkan bau asap pembakaran sampah yang menyengat pada malam hari. Sejumlah video yang beredar di grup warga menunjukkan kepulan asap dari lahan kosong di sisi utara kawasan Tallasa City.
⚖️ FP2M: Ini Pelanggaran Berat Atas Regulasi Lingkungan
Ketua Forum Pelayanan Publik (FP2M) Kota Makassar, Hendra Nick Arthur, menyebut kondisi ini sebagai pelanggaran berat terhadap izin lingkungan dan kewajiban pelayanan publik.
“Kawasan dengan ribuan penghuni dan ratusan gudang seharusnya wajib memiliki sistem pengelolaan limbah terintegrasi. Jika tidak, artinya mereka beroperasi tanpa memenuhi syarat dasar izin lingkungan,” tegas Hendra.
Menurutnya, dalam izin pembangunan kota mandiri, setiap pengembang diwajibkan memenuhi tiga komponen dasar:
1. Fasilitas IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah),
2. TPS 3R (Tempat Pengelolaan Sampah Reduce-Reuse-Recycle), dan
3. Sistem Drainase Ramah Lingkungan.
“FKS Land gagal memenuhi semuanya. Ini bukan sekadar kelalaian, tapi bentuk pengabaian terhadap tanggung jawab sosial dan hukum,” tambah Hendra.
FP2M mendesak Pemkot Makassar, DLH, dan Balai Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang untuk melakukan audit menyeluruh atas sistem drainase dan pengelolaan limbah di Tallasa City.
“Selama belum ada tindakan tegas, kita hanya menunggu waktu sebelum kawasan ini menjadi titik krisis lingkungan baru di Makassar,” tutupnya.
🏢 Manajemen FKS Land Bungkam
Hingga berita ini diturunkan, manajemen FKS Land belum memberikan tanggapan atas temuan ini.
Upaya konfirmasi kepada Divisi Operasional Head FKS Land, Yustinus Iwan Kurnianto, belum mendapat balasan.
FKS Land berada di bawah FKS Group (Fishindo Kusuma Sejahtera), perusahaan nasional yang dikenal dengan pengembangan kawasan industri dan kota mandiri.
Proyek Tallasa City Makassar, yang berdiri di atas lahan ratusan hektare di Kecamatan Tamalanrea dan Biringkanaya, diklaim sebagai ikon kawasan pergudangan dan perumahan modern di Indonesia Timur.
🧭 Analisis Redaksi
Kawasan sebesar Tallasa City seharusnya menjadi contoh pembangunan berkelanjutan dan kota ramah lingkungan, bukan sebaliknya. Produksi hampir satu ton sampah per hari tanpa sistem pengolahan adalah alarm ekologis yang menandakan lemahnya pengawasan dan akuntabilitas korporasi.
Tanpa perubahan sistem dan keterbukaan dari manajemen FKS Land, “kota mandiri” ini berpotensi berubah menjadi kota pencemar di mana kemewahan fasad hanya menutupi krisis lingkungan yang terus membusuk di bawahnya

