Wapres Gibran Tinjau DTECH dan AII: Vokasi Teknologi Jadi Pilar Kemandirian Bangsa

Diterbitkan oleh Redaksi pada Jumat, 7 November 2025 17:43 WIB dengan kategori Gibran Headline Nasional dan sudah 171 kali ditampilkan

Usai mengunjungi Kampung Singkong Salatiga, Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming melanjutkan rangkaian kunjungannya ke DTECH Engineering (Arumi Motoparts) dan Akademi Inovasi Indonesia (AII) di Krajan Dua, Bener, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Jumat (07/11/2025). Kunjungan ini menjadi bentuk dukungan pemerintah terhadap penguatan model kolaborasi industri dan pendidikan yang menghasilkan inovasi teknologi tinggi berbasis kebutuhan nyata dunia usaha, sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat kemandirian dan penguasaan teknologi nasional.

Dalam peninjaun tersebut, Wapres melihat langsung bagaimana integrasi antara DTECH Engineering dan AII melahirkan ekosistem inovasi yang menghubungkan riset industri dengan pendidikan vokasi. Melalui pendekatan teaching factory dan sistem pembelajaran berbasis proyek, siswa tidak hanya mendapatkan teori akademik, tetapi juga terlibat langsung dalam proses pengembangan produk teknologi, mulai dari riset, perancangan desain, proses manufaktur, hingga pemasaran secara digital melalui platform e-commerce.

Wapres menilai bahwa kemitraan strategis ini menunjukkan bahwa pendidikan vokasi mampu menciptakan talenta muda yang relevan dengan kebutuhan industri modern. Model kerja sama ini dinilai dapat menjadi rujukan nasional yang mendorong percepatan link and match antara industri dan lembaga pendidikan, sekaligus membuka peluang kerja yang lebih luas dan sesuai bidang keterampilan para lulusan.

Hal tersebut turut dirasakan manfaatnya oleh Anggi Vandika, salah satu lulusan angkatan pertama AII yang kini bekerja di DTECH Engineering. Menurutnya, hubungan antara dunia usaha dan pendidikan merupakan dua sisi yang tidak dapat dipisahkan. Ia menjelaskan bahwa kerja sama tersebut bukan hanya membuka lapangan kerja sesuai skill, namun juga memberikan peluang lebih besar bagi lulusan vokasi untuk berkembang hingga level manajerial.

“Dulu hanya operator, sekarang harus manage lebih dari 350 orang, dari awal riset sampai pemasaran harus paham semua,” ujarnya.

Model kolaborasi ini menjadi bukti bahwa pendidikan vokasi berbasis teaching factory mampu menghadirkan kesiapan industri sejak tahap pembelajaran. Pemerintah berharap pola kerja sama seperti ini dapat diperluas ke berbagai daerah untuk memperkuat fondasi inovasi nasional dan mencetak generasi talenta teknologi Indonesia yang kompetitif.