Rakernas PDI-P, Megawati Singgung Ambang Batas Iklim Terlampaui
JAKARTA - TERKININEWS.COM - Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, mengkritik keras kebijakan dan undang-undang yang dinilainya memberi “karpet merah” bagi eksploitasi sumber daya alam. Menurut Megawati, regulasi semacam itu menjadi pemicu utama terjadinya bencana ekologis sekaligus krisis kemanusiaan di berbagai daerah di Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Megawati saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I PDI-P yang digelar di Beach City International Stadium (BCIS), Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (10/1/2026). Ia menegaskan bahwa regulasi yang mempermudah pemberian konsesi skala besar telah membuka jalan bagi deforestasi, perampasan tanah, serta perusakan ekosistem secara sistematis.
Megawati menilai bencana alam yang melanda sejumlah wilayah, seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, tidak bisa semata-mata dipahami sebagai peristiwa alamiah. Ia menegaskan bahwa kerusakan lingkungan tersebut merupakan dampak langsung dari kebijakan pembangunan yang mengabaikan daya dukung ekologi.
Menurut Presiden ke-5 RI itu, atas nama pembangunan, hutan alam dan wilayah adat kerap dirampas lalu digantikan oleh tanaman monokultur yang miskin fungsi ekologis. Akibatnya, kawasan hulu yang seharusnya menjadi penyangga kehidupan justru kehilangan perannya.
Megawati menjelaskan, ketika hujan turun, air tidak lagi terserap secara optimal oleh tanah. Air yang seharusnya menjadi sumber kehidupan berubah menjadi kekuatan perusak yang memicu banjir dan bencana lainnya.
Ia juga menyinggung hujan ekstrem yang terjadi pada 23 November 2025, yang melumpuhkan puluhan kabupaten dan kota di Pulau Sumatera. Peristiwa tersebut mengakibatkan ribuan korban jiwa, ratusan orang hilang, serta ratusan ribu warga terpaksa mengungsi.
Megawati menilai kondisi tersebut sebagai peringatan serius tentang krisis peradaban ekologis yang tengah dihadapi umat manusia. Ia menekankan bahwa manusia telah keliru menempatkan dirinya sebagai penguasa alam, bukan sebagai bagian dari kesatuan ekosistem.
Dalam pidatonya, Megawati juga menyoroti krisis iklim global. Ia menyebut suhu bumi saat ini menjadi yang terpanas dalam 100.000 tahun terakhir, bahkan ambang batas kenaikan suhu global 1,5 derajat Celsius telah terlampaui. Kondisi ini, menurutnya, menjadi alarm keras bagi masa depan kehidupan di bumi.

