Amerika Serikat dan Mitra ASEAN Memperdalam Kerja Sama untuk Memerangi Perdagangan Gelap Benda Cagar Budaya

Diterbitkan oleh Redaksi pada Kamis, 9 April 2026 15:15 WIB dengan kategori Jakarta dan sudah 187 kali ditampilkan

JAKARTA - TERKININEWS.COM - Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, bekerja sama dengan Antiquities Coalition, menyelenggarakan acara tingkat tinggi AS-ASEAN, "Safeguarding Southeast Asia's Heritage: Strengthening ASEAN–U.S. Cooperation to Combat Cultural Property Trafficking" (Melindungi Warisan Asia Tenggara: Memperkuat Kerja Sama ASEAN–AS untuk Memerangi Perdagangan Gelap Benda Cagar Budaya), pada tanggal 8-9 April di Jakarta. Konferensi dua hari tersebut mempertemukan pejabat senior, perwakilan penegak hukum, diplomat, pakar hukum, dan akademisi dari seluruh Asia Tenggara dan Amerika Serikat untuk memperkuat kerja sama melawan perdagangan gelap benda-benda kuno dan sakral.

Dalam sambutan pembukaan, Kuasa Usaha ad interim Kedutaan Besar AS Jakarta Peter M. Haymond mengatakan, "Pencurian dan perdagangan gelap benda cagar budaya bukanlah isu abstrak. Hal ini nyata merugikan masyarakat, mengikis kepercayaan terhadap institusi, dan memperkuat tangan para penjahat. Oleh karena itu, melindungi warisan budaya bukan hanya tentang melestarikan masa lalu. Ini tentang membela perbatasan kita, warga negara kita, dan supremasi hukum saat ini."

Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Endah T. D. Restnoastuti, menyampaikan, “Pelestarian warisan budaya merupakan tanggung jawab bersama demi generasi mendatang. Indonesia tetap berkomitmen untuk bekerja sama dengan negara-negara anggota ASEAN serta para mitra dalam memajukan agenda ini.”

Deborah Lehr, Ketua dan Pendiri Antiquities Coalition, menyatakan, "Melindungi warisan budaya bukan hanya tentang melestarikan masa lalu—tetapi tentang mengamankan masa depan. Benda-benda ini mewujudkan identitas, kreativitas, dan sejarah bersama masyarakat, menawarkan rasa persatuan dan rasa memiliki yang tidak dapat digantikan. Ketika benda-benda tersebut dijarah, negara-negara tidak hanya dirampas warisannya, tetapi juga peluang—budaya, sosial, dan ekonomi—yang menyertainya. Memperkuat kemitraan seperti antara Amerika Serikat dan ASEAN sangat penting untuk memastikan bahwa warisan tetap menjadi sumber kebanggaan dan kemakmuran bagi generasi mendatang."

(Foto: U.S. Embassy Jakarta/Erik Kurniawan)

Selama dua hari, para peserta mengkaji skala dan sifat perdagangan gelap benda cagar budaya yang terus berkembang di Asia Tenggara, termasuk bagaimana para pelaku perdagangan gelap mengeksploitasi situs arkeologi, institusi keagamaan, dan lingkungan pascakonflik. Mereka juga membahas peran pasar seni global dan sistem keuangan dalam memfasilitasi atau mencegah perdagangan gelap, serta bagaimana uji tuntas yang lebih kuat, penelitian asal-usul, dan kerangka regulasi dapat mengurangi permintaan terhadap benda-benda jarahan. Dengan mengambil pelajaran dari keberhasilan repatriasi dan investigasi di Kamboja, Indonesia, dan di seluruh kawasan, program ini menyoroti bagaimana tindakan terkoordinasi oleh pemerintah, penegak hukum, museum, dan masyarakat sipil dapat memulihkan benda-benda budaya penting dan membongkar jaringan kriminal.

Fokus signifikan dari diskusi berpusat pada penggunaan Perjanjian Benda Cagar Budaya (Cultural Property Agreements/CPA) antara Amerika Serikat dan negara-negara mitra untuk mencegah impor benda cagar budaya hasil jarahan. Para pakar dan pejabat menguraikan bagaimana CPA telah membantu negara-negara melindungi warisannya, mendukung upaya penegakan hukum, dan menandakan pengakuan internasional atas pentingnya melindungi benda cagar budaya. Para peserta mengkaji proses negosiasi dan implementasi perjanjian-perjanjian ini, termasuk persyaratan hukum, koordinasi antarinstansi, dan kewajiban jangka panjang, serta mempertimbangkan bagaimana lebih banyak negara anggota ASEAN dapat memperoleh manfaat dari kerangka kerja ini.

Kuasa Usaha ad interim untuk Misi AS ke ASEAN di Jakarta Joy M. Sakurai menutup program dengan menyoroti bagaimana kerja sama ini memperkuat keamanan nasional dan regional. "Kerja sama erat AS-ASEAN untuk memerangi perdagangan gelap benda cagar budaya sangat penting untuk mengganggu jaringan keuangan kelompok kriminal transnasional dan mencegah kolektor seni dan konsumen lainnya secara tidak sengaja mendukung kegiatan ilegal. Kami berharap dapat memajukan kerja ini di Jakarta dan bulan depan di Manila," ujar Sakurai.

Ke depan, penyelenggara dan peserta mengantisipasi bahwa acara ini akan berfungsi sebagai katalis untuk kerja sama yang lebih formal antara Amerika Serikat dan ASEAN dalam memerangi perdagangan gelap benda cagar budaya.

(Foto: U.S. Embassy Jakarta/Erik Kurniawan)

(Foto: U.S. Embassy Jakarta/Erik Kurniawan)