Mengungkap Rahasia Pantun Bersama Maestro Pantun

Diterbitkan oleh Dachroni pada Kamis, 4 Juni 2009 00:00 WIB dengan kategori Nasional dan sudah 1.110 kali ditampilkan

TANJUNGPINANG -Semua orang mungkin tahu pantun, tetapi tak semua orang mampu berpantun. Ingin tahu, bagaimana berpantun yang benar dan baik.
TANJUNGPINANG -Semua orang mungkin tahu pantun, tetapi tak semua orang mampu berpantun. Ingin tahu, bagaimana berpantun yang benar dan baik.

Pada kesempatan ini, terkininews bersama sang Maestro Pantun, H. M. Ali Achmad yang juga penerima Anugrah Kemilau pertama mencoba mengulas pantun terkait dengan sejarah dan cara bagaimana agar sampiran dan isi pantun itu harmonis ketika diucapkan.

Pantun, menurut H. M. Ali Achmad merupakan tradisi lama budaya Lisan Melayu dari zaman ke zaman.

Namun, menurutnya, hal ini perlu ditelusuri lebih lanjut darimana asal-muasal pantun itu. "Insya Allah saya memiliki rencana untuk membuat buku tentang pantun, selain mengkaji tentang asal-muasal pantun dalam buku tersebut akan ada tips-tips untuk membuat pantun bagaimana sampiran dan isinya ketika dituturkan akan kedengaran harmonis," kata pria yang memiliki sapaan kecil Alipon ini.

Pantun memang tidak asing bagi masyarakat Melayu. Pantun menjadi langgam yang utama dalam dendang rakyat, majelis-majelis pertunangan, pinang-meminang dan hias. "Pantun itu secara kategorinya dapat dipecahkan dalam beberapaa kategori tertentu yaitu pantun usik-mengusik, pantun jenaka, pantun pengajaran (nasehat), pantun pendidikan dan pelbagai kategori lagi," ujarnya. Bagaimana membuat pantun yang sedap didengar oleh lawan bicara.

Tentu pertama sekali yang perlu dilakukan adalah mengetahui kategori pantun apa yang hendak disampaikan. Kalau dilihat dan didengar apabila seseorang akan membuat pantun selalu isi pantun yang menjadi tujuan akhir dari pantun itu. Sedangkan pembayang (sampiran, red) dapat dibuat dari kata-kata yang berunsurkan alam, gunung-gunung, pulau-pulau nama bangunan, kota bersejarah, bunga, daun, bukit-pulau, nama-nama tempat dan lainnya.

Kemudian maestro pantun ini juga mencontohkannya dengan sebait pantun, "Gunung Bintan lekuk ditengah, sayang penyengat kubunye tige, hancur badan menjadi tanah, Tuan kuingat kukenang juga. Dengan cergas kita mengambil satu nama lokasi yaitu Gunung Bintan dan Pulau Penyengat untuk sampiran membuat pantun tadi,".

Banyak lagi rahasia pantun yang lain dan menurutnya menarik untuk dipelajari karena belajar berpantun berarti belajar untuk beretorikan yang santun. Itulah sebabnya, yang mendorong dia untuk terus berkarya melalui pantun-pantun. Dia juga berharap pemerintah daerah dapat membantunya kelak dalam menerbitkan karyanya kelak.***