Asal Mula Terompet Tahun Baru

Kamis, 31 Desember 2015 15:29 WIB
1068x ditampilkan Pendidikan

Makassar -- Menjelang pergantian menuju tahun baru tak lengkap rasanya tampa kebingisingan petasan ataupun terompet Kita sering melihat penjual terompet berkeliaran, dari pedagang kaki lima sampai toko dan gerai di mall-mall besar ramai menjual terompet untuk dirayakan di malam tahun baru. Namun, hingga sampai saat ini tidak banyak orang yang mengetahui mengapa 'terompet' sering dipakai untuk menyambut datangnya tanggal 1 Januari!!

 

 

Sebagian besar dari mereka juga tidak paham sejarah yang sebenarnya tentang perayaan meniup terompet di tahun baru. Perlu kita ketahui, Bahwa tradisi meniup terompet pada aslinya adalah budaya kaum Yahudi untuk menyambut tahun baru bangsa mereka yang jatuh pada bulan ke tujuh pada sistem penanggalan mereka (bulan Tisyri)
Meskipun setelah itu mereka merayakannya di bulan Januari sejak berkuasanya bangsa Romawi kuno atas mereka pada tahun 63 Sebelum Masehi.

 

 

Sejak saat itulah mereka selalu mengikuti kalender Julian yang kemudian dirubah menjadi kalender Masehi alias kalender Gregorian. Di malam tahun baru, kaum Yahudi melakukan introspeksi diri dengan tradisi meniup shofar (serunai), sebuah alat musik sejenis terompet. Bunyi shofar memang mirip sekali dengan bunyi terompet kertas yang dibunyikan orang-orang Indonesia di malam Tahun Baru.

 

 

Sebenarnya shofar (serunai) sendiri memang merupakan salah satu jenis dari terompet. Dan Terompet sendiri diperkirakan sudah ada sejak tahun 1.500 sebelum Masehi. Mulanya, alat musik jenis ini diperuntukkan untuk keperluan ritual agama dan juga digunakan dalam acara militer, Biasanya dibunyikan ketika para tentara akan berperang. Kemudian terompet dijadikan sebagai alat musik pada kurun pertengahan Renaissance hingga sekarang. Para pembaca yang budiman, inilah sejarah terompet dan asal penggunaannya.

 

Ini merupakan syi'ar dan simbol keagamaan bangsa yahudi saat merayakan pergantian hari menuju tahun baru. Selain itu, terompet juga dipakai oleh bangsa Yahudi untuk mengumpulkan manusia saat mereka ingin beribadah