Dreyfus Dan Munculnya Istilah Intelektual

Diterbitkan oleh Adhie pada Jumat, 26 Februari 2021 05:54 WIB dengan kategori Opini dan sudah 229 kali ditampilkan

PENULIS : SUDHARMIN MAS'SANGADJI

 

Tentunya kita sering mendengar atau mengucapkan istilah intelektual. Suatu istilah sebutan yang ditujukan kepada orang terkhusus. Bahkan, sering ada sekolompok, atau bahkan kita, mengklaim bahwa kita merupakan bagian daripada itu, karena melihat aktivitas yang dilakukan atau atas kesombongan diri, sesuai dengan pengertian istilah tersebut yang sudah diberi batasan (definisi) oleh banyak tokoh intelektual di dunia. Akan tetapi, tahukah kita dari mana asal mula istilah intelektual itu hingga kita kenal sampai saat ini?

 

Asal mula istilah intelektual ini lahir, sesuai dengan yang telah banyak dituliskan dan dibicarakan para penulis-penulis kenamaan dan para kelompok-kelompok intelegensia di seluruh dunia. Atas rasa simpatik, setelah membaca, penulis tertarik untuk mendiskusikannya lewat tulisan kecil ini, sebagai bentuk cara mengenang lahirnya istilah intelektual dari kisah atau peristiwa sehingga istilah intelektual itu bukanlah hanya sekedar istilah kata. Tapi, dia adalah sebagai konsep, atau bahkan lebih dari konsep perjuangan untuk pelaku pergerakan yang mengaktualisasikan pembelaan-pembelaan kepada orang-orang yang tertindas.

 

Peristiwa Alfred Dreyfus

 

Dituliskan dalam bukunya Hariqo Wibawa Satria (2011), istilah intelektual ini lahir sebuah peristiwa yang dikenal dengan “Kasus Dreyfus”.

Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 1896 di Prancis. Berawal dari ketika Alfren Dreyfus, seorang kapten Yahudi dalam dinas ketentaraan Prancis, dituduh sebagai mata-mata Jerman untuk mengetahui dan membocorkan rahasia militer Prancis yang disebut dengan BORDEAU atau jadwal kepada kedutaan Jerman.

Bagi Prancis, tidak ada penghianatan yang lebih besar selain daripada membocorkan rahasia militer negara oleh seorang opsir.

Dari tuduhan itu, jabatannya dicopot, dan Alfred Dreyfus pun mendapat hukuman penjara seumur hidup dari hasil keputusan sidang Pengadilan Militer di Prancis, kemudian dia dibuang ke Guyana.

 

Kasus Dreyfus menyita perhatian publik Prancis. Dalam suasana kebencian, publik Prancis meneriaki bahwa Alfred Dreyfus sebagai penghianat.

Kasus Dreyfus itu menjadi pemantik munculnya kembali rasialisme terhadap Yahudi laksana apa dalam sekam, sejarah Eropa pun, terkhususnya Eropa Barat memuncaklah pelenyapan atas kaum Yahudi, terlebih-lebih oleh Hitler yang memusnahkan jutaan kaum Yahudi di Jerman dan luar Jerman.

 

Tidak beberapa lama kemudian, ternyata, apa yang disebutkan sebagai penghianatan itu adalah tidak benar, semuanya palsu belaka, rekayasa dan merupakan hasil penipuan. Akan tetapi, Dreyfus sudah terlanjur diputuskan bersalah sehingga propaganda anti-Yahudi muncul begitu kuat di Prancis. Poster-poster Dreyfus bertebaran dan tertempel di dinding-dinding kota, dituduh penghianat Prancis dengan sebutan “Yudas Yahudi”.

 

Namun, di publik Prancis itu sendiri , ternyata tidak semua orang membenci dan menuduh Dreyfus sebagai penghianat.

Ada kelompok atau perseorang yang membongkar bahwa tuduhan yang di alamatkan pada Dreyfus itu palsu.

Sebagai protes atas keputusan Mahkamah Pengadilan Militer Prancis yang sewenang-wenang, muncullah seorang novelis terkenal yang membela Dreyfus, dia bernama Emile Zola.

 

Dalam protesnya, Emila Zola menuliskan sebuah surat terbuka yang berjudul

“J’accuse”(aku mendakwa),

surat itu tertulis di halaman depan surat kabar bernama L’Aurore yang diterbitkan di Paris.

Zola menuduh para anggota dinas militer ketentaraan Prancis telah merekayasa bukti-bukti, memanipulasi dan menutup-nutupi fakta kasus tersebut. Dari protesnya itu, Emile Zola ditahan dan diadili dengan tuduhan memfitnah dan mencemarkan nama baik ketentaraan militer Prancis.

 

Peristiwa Dreyfus itu begitu mengguncang Prancis, sehingga pemerintah yang bertanggungjawab waktu itu jatuh pada pemilihan umum 1899 dan diganti atau dimenangkan oleh pemerintahan yang progresif kemudian membebaskan Alfred Dreyfus dari penjara seumur hidup.

 

Surat terbuka Emile Zola tadi menghasilkan kenangan dan kemudian dikenal sebagai Manifeste des intellectuels (Manifesto Para Intelektual).

Surat itu juga membuat perpecahan di kalangan Pengarang Prancis menjadi dua kubu.

Kubu pertama adalah kubu Dreyfusard (yang membela Alfred Dreyfus) dan kubu kedua adalah Anti-Dreyfusard (yang anti terhadap Alfred Dreyfus).

 

Dari polarisasi di atas, muncullah istilah intelektual. Pada awalnya, istilah itu merupakan cemohan yang mengandung konotasi negatif. Kubu Anti-Dreyfusard, memakai istilah intelektual untuk menunjukkan kepada para penulis dan selebritis yang berorientasi pasar yang memiliki keterkaitan dengan kubu Dreyfusard.

 

Namun, efek tuduhan-tuduhan yang tidak benar itu dari kubu anti Dreyfus, kaum Dreyfusard semakin memperteguh kelompoknya.

Bahkan, akibat sikap antipati dari kaum anti Dreyfusard, memberikan kesadaran kepada mereka (Dreyfusard) sebua nama dan kesadaran akan identitas mereka yang baru.

Sejak saat itu, kata inteletual bukan hanya isitlah yang populer, melainkan mengandung makna baik, juga suatu model baru bentuk keterlibatan dalam kehidupan masyarakat dan juga peran baru untuk diaktualisasikan.

 

Dari peristiwa yang saya uaraikuardiatas,

 pada tahap-tahap awal kemunculannya, intelektual menunjukkan pada suatu kelompok dengan misi yang diproklamirkan sendiri, yaitu untuk membela suatu nurani bersama atas perseoalan-persoalan politik mendasar.

Dari peristiwa di atas, kita juga mengetahui bahwa istilah intelektual lahir dari peristiwa yang penuh perjuangan, perlu untuk dikenang, diingat dan menghargai sejarah itu, mengingat sekarang banyaknya penyelewengan atau juga penodaan yang mengatasnamakan intelektual.

 

Dalam perkembangan sejarah intelektual berikutnya, hingga saat ini, kata intelektual memiliki defenisi-defensi yang melimpah. Peristiwa Dreyfus dianggap juga sebagai referensi otoritas politik dan sejarah pemikiran di Prancis atas istilah “Les Intellectuels”. Sebab, untuk pertama kalinya kata tersebut digunakan sebagai sebutan (gelar) dalam sauatu deklarasi Manifeste des Intellectuel

(Manifesto Para Intelektual).