Mewujudkan Mimpi yang Terabaikan Warga Lampung Timur Bangun Jalan Sendiri
LAMPUNG - TERKININEWS.COM -- Di tengah hiruk-pikuk janji manis pembangunan infrastruktur yang sering didengungkan pemerintah daerah, sebuah kisah keteladanan sekaligus kritik tajam muncul dari Dusun 8, Desa Sribhawono, Kecamatan Bandar Sribhawono, Lampung Timur, Lampung.
Merasa lelah menanti uluran tangan yang tak kunjung datang, warga setempat memutuskan untuk mewujudkan mimpi mereka memiliki akses jalan yang layak secara swadaya penuh tanpa sepeser pun bantuan dari Pemerintah Desa hingga Pemerintah Kabupaten.
Aksi gotong royong ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur biasa, melainkan manifestasi dari kekecewaan warga terhadap lambatnya respons pemerintah terhadap kebutuhan dasar mereka.
Jalan yang mereka realisasikan adalah rabat beton dengan lebar 2,5 meter dan ketebalan yang diperkirakan mencapai 10 hingga 15 sentimeter. Kualitas konstruksi ini, yang dibangun dengan cucuran keringat dan iuran mandiri, jelas menjadi pembanding yang menyakitkan bagi proyek-proyek pemerintah yang sering dicap lamban dan bermasalah.
Akses jalan sepanjang 350 meter yang membentang dari Jalan Lintas Ir. Sutami di Dusun 3 menuju Dusun 8 ini telah dikerjakan secara maraton sejak pertengahan Oktober. Proses pembangunan yang sepenuhnya bergantung pada inisiatif warga ini menunjukkan betapa krusialnya jalur tersebut.
"Akses jalan ini sangat penting bagi kami dan warga. Jalan ini sering kami lalui, terutama menuju areal pemakaman saat waktu ziarah menjelang bulan Puasa Ramadan tiba," ungkap Yatin Nurohmat (47), warga sekitar, Minggu (7/12/2025).
Sebuah pernyataannya lugas dari seorang warga tidak bisa menunggu lagi, bahkan untuk urusan yang berhubungan dengan tradisi dan hak dasar mereka untuk berziarah dengan nyaman.
Pembangunan dengan cara swadaya ini berawal dari musyawarah mufakat di antara warga. Prinsipnya adalah kerelaan, yang diterjemahkan melalui pengumpulan material secara bertahap dan sukarela, seperti semen, pasir, dan batu koral. Sebuah cermin nyata solidaritas yang harusnya menjadi pelajaran bagi birokrasi yang kaku.
"Sedikit demi sedikit, warga patungan satu hingga dua sak semen, serta sumbangan pasir dan batu di pinggir lokasi jalan," tutur warga lainnya yang pada hari itu telah seharian bekerja.
Lebih mengharukan lagi, seluruh proses pengerjaan dilakukan dengan tenaga warga sendiri tanpa bayaran, bahkan para ibu rumah tangga pun turut berpartisipasi dengan menyediakan makanan dan minuman ala kadarnya untuk para pekerja.
Namun, pembangunan yang didasari ketulusan ini sempat terhenti. Warga melaporkan bahwa pekerjaan terpaksa mandek karena kekurangan material, khususnya batu koral. Sedangkan progres saat ini masih menyisakan sekitar 50 meter yang harus diselesaikan untuk menuntaskan akses utama prioritas menuju lokasi pemakaman desa.
Warga Dusun 8 juga mengungkapkan sebuah fakta yang semakin memperparah kondisi. Mereka menyebut bahwa lingkungan dusunnya telah lama tidak tersentuh program pembangunan infrastruktur jalan.
"Mungkin sekitar 15 tahun lamanya sekitar kita tidak ada lagi pembangunan infrastruktur jalan" kata Warga.
Kondisi ini membuat mereka berkesimpulan pahit bahwa menunggu janji-janji pembangunan dari Pemerintah Daerah terasa seperti menunggu angan-angan yang tak akan pernah terealisasi.
Kisah di Sribhawono ini adalah sorotan tajam bagi Pemerintah Daerah dalam menjalankan salah satu fungsi utamanya yakni memastikan pemerataan pembangunan dan ketersediaan infrastruktur dasar.
Bukan malah sebaliknya, masyarakat harus mengorbankan waktu, tenaga, dan harta pribadi mereka untuk membangun jalan yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara.

