Anak-Anak Aceh-Sumatera Kehilangan Rumah, Tapi Luka Terdalam Ada di Jiwa Mereka

Diterbitkan oleh Redaksi pada Jumat, 26 Desember 2025 06:06 WIB dengan kategori Headline Jakarta dan sudah 632 kali ditampilkan

JAKARTA - TERKININEWS.COM– Di balik senyuman polos anak-anak penyintas bencana, tersimpan luka psikologis yang menganga. Trauma yang mereka alami bukan sekadar kenangan buruk, melainkan beban mental yang terus menghantui dan dapat berdampak jangka panjang terhadap masa depan mereka.

Ketika banjir dan bencana alam melanda Aceh dan Sumatera, perhatian publik umumnya tertuju pada kehancuran fisik: rumah roboh, jalan terputus, dan kerugian material. Namun, ada kehancuran lain yang jarang terlihat, yaitu luka di dalam jiwa anak-anak yang menjadi korban.

"Anak-anak mungkin mengalami kilas balik peristiwa traumatis, mimpi buruk, ketakutan berlebihan terhadap air atau hujan, serta perubahan perilaku seperti menjadi lebih menarik diri atau sebaliknya menjadi lebih agresif," ungkap Avifi Arka, Ph.D., Direktur Indonesian Hypnosis Centre (IHC), di Jakarta, Rabu (24/12/2025).

Avifi didampingi pengurus Dewan Pengurus Nasional (DPN) ikatan alumni KITA IHC, yaitu A. Fauzan Asmara sebagai Ketua dan I Dewa Gede Sayang Adi Yadnya sebagai Sekretaris. IHC merupakan lembaga pelatihan hipnoterapi terkemuka dengan lebih dari 15.000 alumni praktisi di seluruh Indonesia yang telah memiliki izin operasional resmi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Ketenagakerjaan, Kementerian Kesehatan, dan telah terakreditasi.

Avifi menjelaskan bahwa pengalaman kehilangan rumah, terpisah dari keluarga, atau menyaksikan kerusakan dapat meninggalkan luka psikologis mendalam. Anak-anak sering kali belum memiliki kemampuan kognitif dan emosional yang matang untuk memproses pengalaman traumatis tersebut.

Sementara itu, Fauzan Asmara memberikan ilustrasi yang menyentuh. "Bayangkan seorang anak yang melihat boneka kesayangannya hanyut terbawa arus. Bagi kita, itu hanya boneka. Bagi anak itu, boneka adalah teman tidur, simbol rasa aman. Kehilangannya adalah kehilangan sebagian dari dunianya," paparnya.

Respons pasca-bencana biasanya fokus pada bantuan fisik seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal darurat. Namun, perhatian terhadap kesehatan mental anak-anak korban bencana masih minim. Padahal, tanpa penanganan tepat, trauma masa kecil dapat membekas hingga dewasa.

"Trauma yang tidak tertangani pada masa kanak-kanak dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental di masa depan, kesulitan dalam hubungan interpersonal, bahkan masalah kesehatan fisik," tegas I Dewa Gede Sayang Adi Yadnya.

Tim Relawan KITA IHC yang merupakan hipnoterapis kompeten yang bersertifikat BNSP, telah turun ke lokasi bencana di Aceh sejak Sabtu, 20 Desember 2025, dengan fokus khusus pada penanganan trauma anak-anak. Mereka membawa tidak hanya bantuan material, tetapi juga dukungan psikososial yang sangat dibutuhkan para penyintas cilik.

Seorang relawan di lokasi bencana berbagi pengalaman menyentuh. Ada seorang anak yang tidak mau bicara selama berhari-hari, hanya duduk memeluk lututnya dan menatap kosong. Hingga suatu hari, relawan itu duduk di sampingnya dan mulai menggambar. Perlahan, sang anak mengambil krayon dan mulai menggambar rumahnya yang terendam, keluarganya yang berlari. Melalui gambar itu, proses penyembuhan dimulai.

"Penyembuhan trauma tidak selalu hanya membutuhkan teknologi canggih. Yang paling dibutuhkan adalah kehadiran kita, pendengaran yang penuh perhatian, pelukan tulus, dan ruang aman untuk mengekspresikan rasa takut tanpa dihakimi," ujar Avifi.

Saat ini IHC dan KITA IHC melakukan penggalangan dana untuk mendukung aktivitas relawan di lapangan dan mempersiapkan relawan kloter kedua. Donasi dapat disalurkan melalui Bank BNI nomor rekening 2031708229 atas nama Dewan Pengurus Nasional KITA IHC, atau Bank Mandiri nomor rekening 1610005678912 atas nama Indonesian Hypnosis Centre. Untuk informasi dan konfirmasi dapat menghubungi call centre IHC: 087875066000.

"Air banjir akan surut, rumah akan dibangun kembali. Namun luka di hati anak-anak tidak akan sembuh sendiri. Luka itu membutuhkan perhatian, kasih sayang, dan tindakan nyata dari kita semua," tutup Fauzan Asmara. (Dewa).