Alarm Demokrasi, BEM IBN Bongkar Pola Baru Pembungkaman Suara Mahasiswa

Diterbitkan oleh Redaksi pada Selasa, 9 Desember 2025 05:23 WIB dengan kategori Kampus Lampung Suara Mahasiswa dan sudah 939 kali ditampilkan

TERKININEWS.COM -- Gerakan mahasiswa di Indonesia kini menghadapi ancaman baru yang kian halus, namun mematikan. Ancaman ini diungkap tuntas dalam seminar bertajuk “Gerakan Mahasiswa dan Politik Pembungkaman” yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Institut Bakti Nusantara (IBN) Lampung pada Senin (8/12/2025).

Di hadapan ratusan mahasiswa yang memadati Aula Kampus IBN, Way Jepara, aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) sekaligus Ketua Ikatan Wartawan Online (IWO) Provinsi Lampung, Edi Arsadad S.H., tampil sebagai pembicara tunggal. 

Edi menegaskan, bahwa mahasiswa masih menjadi benteng terakhir demokrasi, namun pola pembungkaman terhadap suara kritis telah berevolusi dari era Orde Baru yang represif menjadi lebih terselubung.

Memurut Edi Arsadad, jebakan UU ITE dan kriminalisasi menggantikan kekerasan fisik. Dia memaparkan bahwa cara-cara lama seperti kekerasan fisik dan tekanan militeristik kini telah digantikan oleh senjata hukum yang jauh lebih licin.

“Pembungkaman kini tidak lagi hanya dengan kekerasan fisik, tapi juga lewat kriminalisasi, UU ITE, doxing, dan tekanan birokrasi kampus,” ungkapnya.

Data yang disajikan kian memperkeruh situasi. Berdasarkan laporan Komisi untuk orang hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), lebih dari 1.200 orang dikriminalisasi hanya karena menyuarakan kritik dalam periode 2020–2024. Lebih mengejutkan, hingga November 2025, lebih dari 150 mahasiswa telah terjerat UU ITE, dan ironisnya, 80 persen kasus ujaran kebencian justru menimpa mereka yang mengkritik kekuasaan. Ini menunjukkan bahwa hukum yang seharusnya melindungi kebebasan berekspresi, kini rawan disalahgunakan sebagai alat pembungkam.

Pondasi Perjuangan: Independen dan Bersekutu dengan Rakyat:

Menyikapi eskalasi ancaman ini, Edi Arsadad menggarisbawahi pentingnya mahasiswa kembali pada akar perjuangan yang benar. Gerakan tidak boleh lagi bersifat personal atau musiman.

“Pondasi perjuangan mahasiswa itu lima: independensi (tidak boleh jadi kepanjangan tangan partai atau oligarki), intelektualitas (selalu berbasis data dan analisis mendalam), moralitas (jujur, bersih, konsisten), kolektivitas (bukan gerakan personal atau heroik), serta keberlanjutan melalui kaderisasi yang terencana,” tegas Edi.

Selain memperkuat internal kampus melalui kultur diskusi, ia juga menekankan perlunya mahasiswa membangun aliansi strategis dengan kelompok marjinal dan jurnalis independen.

“Bangun jaringan dengan LBH, jurnalis independen, buruh, petani, nelayan, dan masyarakat adat. Kita harus keluar dari menara gading dan bergerak bersama rakyat,” ajaknya disambut tepuk tangan riuh.

Seminar yang penuh kritik dan strategi ini ditutup dengan sesi tanya jawab yang hidup. Para mahasiswa IBN tampak tercerahkan, memahami bahwa perjuangan demokrasi saat ini memerlukan taktik yang lebih cerdas dan jaringan yang lebih kuat.

“Seminar ini menjadi alarm bagi kami. Kami tidak boleh diam melihat demokrasi terus terkikis,” ujar Koordinator BEM FEB IBN, M. Adam Mauladani, yang berjanji akan meneruskan semangat perjuangan yang independen dan berintegritas di lingkungan kampus.